Laba Bersih PTBA Melejit 104,81 Persen di Kuartal I-2026
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 miliar.
IDXChannel - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini naik 104,81 persen dibandingkan periode sama setahun sebelumnya (YoY) yakni Rp396,77 miliar.
Sejalan dengan capaian tersebut, pendapatan PTBA tercatat sebesar Rp9,93 triliun, yang mana relatif sama secara YoY yakni Rp9,96 triliun.
Porsi penjualan sampai dengan akhir Maret 2026 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 53 persen, sedangkan sisanya 47 persen merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya.
"Hasilnya, perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan," ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (30/4/2026).
Di tengah kondisi curah hujan yang ekstrem, kata dia, kinerja penjualan hanya turun 1 persen secara YoY walaupun volume produksi turun 22 persen YoY. Meskipun secara YTD harga batu bara mengalami perbaikan, namun harga jual rata-rata (ASP) relatif hanya naik 1 persen YoY.
Kemudian, beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp8,39 triliun, atau turun sebesar 6 persen secara YoY. Penurunan ini seiring dengan penurunan volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 22 persen YoY maupun angkutan yang juga turun 7 persen YoY.
Arsal menerangkan, konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM per liternya, meskipun untuk periode ini masi relatif kecil.
"Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api," katanya.
Di samping itu, beban operasional naik sebesar Rp61,37 miliar atau 10 persen dari periode yang sama sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan di komponen beban umum dan administrasi.
Total aset PTBA pada 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp43,23 triliun atau turun 2 persen dibandingkan akhir 2025 yang tercatat sebesar Rp43,92 triliun.
Kemudian, total liabilitas pada 31 Maret 2026 tercatat turun 8 persen dari posisi pada akhir Desember 2025 sebesar Rp21,30 triliun, menjadi Rp19,56 triliun. Sedangkan ekuitas tercatat naik 5 persen dari posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp22,62 triliun menjadi Rp23,67 triliun pada 31 Maret 2026.
Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menambahkan, capaian pada kuartal ini menunjukkan fondasi operasional perseroan tetap solid di tengah tantangan eksternal, termasuk kondisi cuaca yang memengaruhi produksi dan kondisi geopolitik yang mulai memanas.
"PTBA akan terus menjaga disiplin operasional, memperkuat efisiensi, serta memastikan fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar dan tantangan eksternal. Dengan fondasi operasional yang solid, Perseroan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Eko.
(Dhera Arizona)