MARKET NEWS

Laba MEDC Solid Berkat AMMN, Simak Prospek dan Target Terbaru

TIM RISET IDX CHANNEL 22/09/2026 09:44 WIB

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) membukukan lonjakan laba bersih pada semester I-2026 seiring peningkatan produksi migas hingga harga minyak.

Laba MEDC Solid Berkat AMMN, Simak Prospek dan Target Terbaru. (Foto: Medco)

IDXChannel - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) membukukan lonjakan laba bersih pada semester I-2026 seiring peningkatan produksi migas, harga minyak, serta kontribusi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

 Kinerja tersebut menjadi pijakan bagi prospek MEDC pada paruh kedua tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan yang baru dirilis, MEDC membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD275 juta sepanjang semester I-2026 (6M26).

Angka tersebut melonjak 796,6 persen dibandingkan USD30,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan perseroan juga tumbuh 23,4 persen secara tahunan menjadi USD1,42 miliar, sementara EBITDA meningkat 30,1 persen menjadi USD801 juta.

Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan produksi minyak dan gas serta perbaikan harga jual komoditas.

Produksi migas MEDC pada semester I-2026 mencapai 170,1 Mboepd, tumbuh 19 persen secara tahunan dan telah berada di kisaran panduan produksi perseroan untuk 2026. Gas menyumbang sekitar 72 persen dari total produksi.

Dari sisi biaya, cash cost produksi migas tercatat USD8,4 per boe. Level tersebut masih berada di bawah panduan biaya produksi perseroan untuk tahun ini.

MEDC juga mempertahankan panduan produksi 2026 sebesar 165-170 Mboepd.

Analis BCA Sekuritas Hernanda Cahyo menilai capaian tersebut memperkuat prospek kinerja MEDC. Dalam riset 22 September 2026, ia menyebut sejumlah bagian penting dari kinerja perseroan mulai menunjukkan hasil, dengan kenaikan produksi dan harga terealisasi menjadi penopang utama.

Pada 2Q26 saja, produksi MEDC mencapai 171,4 Mboepd, naik 1,6 persen secara kuartalan dan 19 persen secara tahunan. Produksi minyak mencapai 48,8 Mbopd, sedangkan produksi gas mencapai 668,1 Mmscfd.

Harga minyak terealisasi juga meningkat menjadi USD98,8 per barel atau naik 31,5 persen secara kuartalan.

Sementara harga gas terealisasi mencapai USD8,9 per mmbtu, naik 24,7 persen secara kuartalan.

Perbaikan tersebut membuat EBITDA 2Q26 mencapai USD450 juta, naik 28,2 persen secara kuartalan dan 58,6 persen secara tahunan. Laba bersih juga melonjak menjadi USD208 juta, tumbuh 208,6 persen secara kuartalan.

Kontribusi dari AMMN turut menjadi penopang. Pendapatan dari usaha patungan MEDC meningkat menjadi USD124 juta pada 2Q26, dibandingkan USD45 juta pada 1Q26. Kenaikan tersebut didorong oleh laba bersih AMMN yang mencapai USD338 juta pada kuartal II, sehingga kontribusi JV kepada MEDC mencapai sekitar USD70 juta.

Prospek Semester II-2026

Memasuki paruh kedua 2026, BCA Sekuritas melihat produksi MEDC masih memiliki ruang untuk bertahan kuat. Salah satu katalisnya berasal dari kontribusi penuh Senoro Phase 2A yang mulai beroperasi pada Juni 2026.

Selain itu, Bualuang Renewal Plan Phase I juga diharapkan menopang produksi. MEDC masih memiliki katalis berikutnya dari Sambar, salah satu pengembangan lapangan baru di Corridor.

Sumur pengembangan Sambar ditargetkan mulai beroperasi secara parsial pada 4Q26 dan diperkirakan menambah produksi sekitar 108 Mmscfd pada 2027.

Di sisi harga, BCA Sekuritas melihat kondisi pasar minyak global masih memberikan ruang bagi MEDC.

Gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di sejumlah jalur perdagangan minyak membuat harga minyak tetap berada pada level tinggi.

BCA Sekuritas mempertahankan asumsi harga Brent 2026 sebesar USD100 per barel. Dengan kombinasi pertumbuhan produksi dan harga minyak tersebut, analis mempertahankan rekomendasi beli untuk MEDC dengan target harga Rp2.500 per saham.

Target tersebut mengimplikasikan P/E 2026 sebesar 8,4 kali dan potensi kenaikan 70 persen berdasarkan harga acuan dalam riset.

Namun, prospek tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko, terutama jika ketegangan geopolitik mereda lebih cepat, harga minyak turun, produksi berada di bawah target, biaya operasional meningkat, atau aset yang baru diakuisisi dan proyek panas bumi mencatat kinerja di bawah ekspektasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE