Leverage Makin Masif, Reli Wall Street Terancam Kehabisan Tenaga
Reli pasar saham AS yang sebagian ditopang dana pinjaman mulai menghadapi tantangan baru berupa kenaikan biaya equity financing.
IDXChannel - Reli pasar saham Amerika Serikat (AS) yang sebagian ditopang dana pinjaman mulai menghadapi tantangan baru. Biaya pinjaman untuk membeli saham (equity financing) terus meningkat sehingga memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan kenaikan indeks.
Equity financing tersebut mencakup berbagai opsi pembiayaan mulai dari margin trading, equity repo, total return swap, hedge fund leverage, dan berbagai pembiayaan lainnya yang disediakan bank investasi kepada trader.
Lembaga keuangan global mencatat tren lonjakan arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) dengan menggunakan pinjaman alias leverage, meningkatnya volume perdagangan opsi saham, serta eksposur hedge fund yang mencapai rekor tertinggi. Kondisi itu membebani kapasitas neraca bank-bank besar penyedia pembiayaan, sehingga biaya pinjaman ikut terdorong naik.
Saat ini, eksposur untuk equity repo yang dimiliki primary dealer telah melampaui USD220 miliar, tertinggi sepanjang sejarah. Repo adalah skema pinjaman jangka pendek dengan jaminan saham yang banyak digunakan investor untuk membiayai transaksi saham lainnya.
Strategist Morgan Stanley, Martin Tobias mengatakan, kenaikan biaya pembiayaan ini dapat menjadi sinyal awal perubahan sentimen pasar. Menurut dia, biaya yang semakin mahal berpotensi membuat sejumlah transaksi berbasis leverage tidak lagi menarik.
"Kenaikan pembiayaan saham ini merupakan sinyal awal yang menunjukkan kemungkinan perubahan persepsi investor terhadap kondisi keuangan," katanya dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026).
Sementara itu, Head of U.S. Equity Derivatives Strategy Barclays, Stefano Pascale justru menilai kenaikan biaya pinjaman lebih mencerminkan tingginya minat investor masuk ke pasar saham dibandingkan menjadi ancaman langsung terhadap reli. Dia mengatakan biaya pembiayaan yang naik umumnya muncul saat optimisme pasar sedang tinggi.
"Kenaikan biaya pembiayaan pada dasarnya bukanlah masalah bagi pasar," katanya.
Namun, dia mengakui, kenaikan harga saham secaraa terus menerus dengan pinjaman dapat mengurangi kapasitas bank dalam menyediakan pembiayaan . Misalnya, harga saham naik 10 persen, maka nilai portofolio yang perlu dibiayai juga ikut meningkat 10 persen, karena bank menopang eksposur lebih besar. Dengan asumsi pasar equity financing sekitar USD10 triliun, maka bank perlu menyediakan dana tambahan sekitar USD1 triliun.
Reli saham AS sepanjang 2026 didorong lonjakan saham-saham kecerdasan buatan (AI), terutama pada sektor semikonduktor. Indeks Nasdaq Composite telah mencatat rekor tertinggi sebanyak 20 kali sepanjang tahun ini, sementara aset ETF dengan leverage di AS melonjak dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir menjadi sekitar USD200 miliar.
Tobias menyorot reli Wall Street yang semakin bergantung pada segelintir saham teknologi. Dalam tiga bulan terakhir, hanya sektor teknologi yang mampu mengungguli kinerja indeks S&P 500 dengan saham Nvidia, Broadcom, dan Micron menjadi motor utama penguatan pasar.
Dia menilai, puncak kenaikan saham dalam beberapa periode sebelumnya kerap bertepatan dengan tingginya biaya pembiayaan saham. Dengan tekanan pembiayaan yang meningkat dan S&P 500 masih kesulitan menembus rekor tertinggi, pasar dinilai mulai memasuki titik krusial.
"Yang mendorong pasar naik bukanlah cerminan membaiknya prospek ekonomi AS secara luas. Reli ini hanya ditopang penggunaan leverage yang terkonsentrasi pada bagian pasar yang sangat sempit," ujar Tobias.
(Rahmat Fiansyah)