Libur Imlek, Saatnya Santai Sambil Cermati Saham Tambang, Konsumsi, hingga Bank Besar
Libur Tahun Baru Imlek bisa menjadi momentum tepat bagi investor untuk menyusun strategi dan mencermati saham-saham potensial di Tahun Kuda Api 2026.
IDXChannel – Libur Tahun Baru Imlek bisa menjadi momentum tepat bagi investor untuk menyusun strategi dan mencermati saham-saham potensial di Tahun Kuda Api 2026.
Di tengah jeda perdagangan yang lebih tenang, sejumlah rekomendasi saham layak dipelajari untuk menangkap peluang pada tahun ini.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta Utama dalam paparan “Unlocking 2026: Market Outlook and Stock Pick Opportunities” menilai prospek pasar saham domestik tetap menarik, ditopang fundamental makro yang relatif solid di tengah ketidakpastian guncangan perdagangan dan geopolitik.
Dari sisi makro, Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,3 persen pada 2026 dan berlanjut ke 5,4 persen pada 2027.
Inflasi diperkirakan terjaga di kisaran 2,5 persen, sementara nilai tukar rupiah berpotensi menguat menuju Rp16.500 per dolar AS pada akhir 2026.
Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berada dalam kondisi sangat jenuh jual (oversold) meski tengah mengalami pergeseran tren.
Dalam skenario positif, IHSG berpeluang menuju 9.634 pada 2026, sedangkan skenario negatif berada di area 7.170. Bahkan dalam tren jangka panjang, IHSG disebut masih berada dalam secular uptrend dengan peluang menuju 10.500.
Menariknya, secara historis dalam 25 tahun terakhir, periode Februari hingga Juli kerap menjadi fase positif bagi pasar saham. Momentum Imlek, Ramadan, dan Lebaran dinilai dapat menjadi katalis musiman yang mendukung pergerakan indeks.
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset merekomendasikan strategi akumulasi saham-saham berfundamental solid dan undervalued, sembari menerapkan manajemen risiko yang disiplin.
Sejumlah sektor dinilai prospektif, mulai dari komoditas (emas, batu bara, nikel), perbankan, konsumsi, hingga telekomunikasi.
Di sektor komoditas, saham seperti AADI, ADRO, AMMN, hingga HRUM dan INCO dinilai menarik seiring prospek harga emas yang bertahan tinggi dan potensi pemulihan siklus komoditas.
Di sektor perbankan, saham-saham big banks seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI dinilai tetap solid dengan dukungan likuiditas, deposit, dan permodalan kuat serta potensi dividen yang menarik. Beberapa di antaranya juga diperdagangkan pada valuasi relatif murah dibandingkan rata-rata historis.
Sementara itu, saham berbasis emas seperti BRMS, EMAS, dan HRTA turut menjadi perhatian, sejalan dengan proyeksi harga emas global yang tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dan tren penurunan suku bunga global.
Di sektor konsumer dan ritel, HMSP, JPFA, serta MAPI dinilai berpeluang mencatat pemulihan margin dan pertumbuhan laba, didukung stabilitas daya beli domestik dan pertumbuhan kelas menengah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.