MARKET NEWS

Lonjakan Harga Minyak Mereda, Wall Street Dibuka Menguat

Desi Angriani 17/03/2026 21:55 WIB

Penguatan ini melanjutkan tren positif pada perdagangan sebelumnya, didorong optimisme pasar terhadap potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.

Lonjakan Harga Minyak Mereda, Wall Street Dibuka Menguat (Foto: dok AP)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026) waktu setempat, seiring meredanya lonjakan harga minyak yang sebelumnya sempat menekan sentimen investor.

Melansir Investing, indeks acuan S&P 500 tercatat menguat 0,6 persen ke level 6.738,24, sementara NASDAQ Composite naik 0,5 persen menjadi 22.489,36. Adapun Dow Jones Industrial Average bertambah 0,8 persen ke posisi 47.303,81.

Penguatan ini melanjutkan tren positif pada perdagangan sebelumnya, didorong optimisme pasar terhadap potensi pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia

Harapan muncul seiring kemungkinan terbentuknya koalisi internasional untuk mendukung upaya Amerika Serikat.

Namun, dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran terus memanas, dengan respons dari Teheran yang meningkatkan ketidakpastian global. 

Sejumlah sekutu AS seperti Inggris dan Prancis membuka peluang diskusi dukungan, sementara Jerman dan Jepang justru menolak permintaan bantuan dari Presiden Donald Trump.

Di pasar komoditas, harga minyak tetap berada di level tinggi. Kontrak Brent crude naik 1,7 persen ke USD101,95 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,9 persen ke USD94,18 per barel. 

Secara keseluruhan, harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Ketegangan semakin meningkat setelah laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab. 

Insiden tersebut, meski hanya menyebabkan kerusakan ringan, menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global. Selain itu, kebakaran di fasilitas minyak utama yang diduga dipicu drone turut memperburuk risiko gangguan pasokan.

CEO Delta Air Lines, Ed Bastian mengungkapkan, perusahaan telah menaikkan sebagian tarif penerbangan untuk mengimbangi biaya bahan bakar yang meningkat dua kali lipat sejak awal kuartal pertama. 

Meski demikian, saham Delta justru melonjak hampir 5 persen setelah proyeksi laba tetap sesuai panduan sebelumnya.

Di tengah tekanan inflasi, pelaku pasar kini menantikan keputusan sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, European Central Bank, dan Bank of Japan, yang dijadwalkan menggelar rapat pekan ini.

Analis FXTM, Lukman Otunuga menilai, bank sentral menghadapi dilema kompleks antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi yang dipicu konflik.
Menurutnya, risiko inflasi berbasis geopolitik dapat memaksa peninjauan ulang kebijakan suku bunga, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Sementara itu, ketegangan geopolitik juga merambah hubungan internasional. Presiden Trump dilaporkan meminta penundaan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, di tengah desakan agar Beijing turut membantu mengamankan Selat Hormuz. 

Namun, China yang merupakan pembeli utama minyak Iran dinilai memiliki kepentingan berbeda dan belum menunjukkan respons positif.

Dari sisi korporasi, investor juga menantikan laporan kinerja sejumlah emiten besar seperti DocuSign dan Lululemon Athletica. 

Selain itu, pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, turut menjadi perhatian setelah memproyeksikan penjualan chip kecerdasan buatan bisa menembus USD1 triliun pada 2027.

(DESI ANGRIANI)

SHARE