Margin Tertekan, Kinerja Sektor Konsumer Q3-2026 Diprediksi Beragam
Kinerja emiten barang konsumsi diperkirakan menghadapi tekanan margin pada kuartal III-2026 (Q3-2026) akibat kenaikan harga bahan baku.
IDXChannel – Kinerja emiten barang konsumsi diperkirakan menghadapi tekanan margin pada kuartal III-2026 (Q3-2026) akibat kenaikan harga bahan baku.
Di tengah kondisi tersebut, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba yang lebih kuat dari perkiraan pasar, sementara PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) berisiko membukukan laba di bawah konsensus.
Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan dalam riset yang terbit pada 14 Oktober 2026 memperkirakan kinerja laba KLBF dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada kuartal III-2026 akan melampaui konsensus.
Sementara itu, laba PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diperkirakan sejalan dengan ekspektasi pasar, sedangkan laba SIDO berpotensi di bawah perkiraan.
Dari sisi penjualan, KLBF diperkirakan menjadi satu-satunya emiten dalam kelompok yang dianalisis dengan realisasi di atas konsensus.
Berdasarkan hasil penelusuran saluran distribusi dan komunikasi dengan perusahaan, KLBF menyampaikan tren penjualan kuartal III-2026 serupa dengan kuartal sebelumnya, sehingga pertumbuhannya diperkirakan mencapai sekitar 11 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut ditopang segmen kesehatan konsumen dan distribusi.
CMRY juga diperkirakan mempertahankan pertumbuhan penjualan yang kuat, sejalan dengan panduan perusahaan untuk tahun buku 2026 sebesar 15-20 persen secara tahunan. Kinerja ini terutama didukung segmen produk susu.
Sementara, MYOR memperkirakan penjualan pada kuartal III-2026 tumbuh satu digit menengah secara tahunan.
Penjualan domestik diproyeksikan meningkat pada kisaran satu digit tinggi hingga dua digit rendah, sedangkan penjualan ekspor diperkirakan stagnan akibat pengurangan persediaan di Filipina.
Secara keseluruhan, penjualan ICBP, CMRY, dan SIDO diperkirakan sejalan dengan konsensus, sedangkan penjualan MYOR berpotensi berada di bawah ekspektasi pasar.
Meski prospek penjualan sejumlah emiten masih terjaga, kenaikan harga bahan baku berpotensi menekan margin keuntungan.
Indo Premier memperkirakan margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) MYOR turun menjadi 24 persen pada kuartal III-2026, atau menyusut 81 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya.
GPM ICBP juga diproyeksikan turun menjadi 33 persen, terkoreksi 92 basis poin secara kuartalan.
Tekanan tersebut berasal dari kenaikan harga gula, kakao, dan kopi yang masing-masing meningkat 15,8 persen, 48,3 persen, dan 3,4 persen secara kuartalan.
Selain itu, harga gandum domestik dari Bogasari naik 2 persen pada Juli 2026, sehingga kenaikannya sejak awal tahun mencapai 5-6 persen.
CMRY juga menghadapi tekanan biaya bahan baku.
Harga susu bubuk tercatat meningkat 22 persen sejak awal tahun, sementara perusahaan belum menaikkan harga jual rata-rata.
Kondisi ini diperkirakan menurunkan GPM CMRY menjadi 41,5 persen, atau melemah 200 basis poin secara kuartalan.
Untuk KLBF, GPM diperkirakan turun menjadi 36,6 persen, terkoreksi 25 basis poin secara kuartalan.
Penurunan ini antara lain dipengaruhi apresiasi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sebesar 1,8 persen secara kuartalan, yang meningkatkan tekanan biaya dalam struktur pengeluaran perusahaan.
Sementara itu, GPM SIDO diproyeksikan turun menjadi 51,6 persen, atau melemah 454 basis poin secara tahunan.
Penurunan tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh perubahan komposisi produk yang dijual.
Indo Premier menilai tekanan margin belum akan mereda dalam waktu dekat.
Kenaikan biaya bahan baku diperkirakan berlanjut pada kuartal IV-2026 dan berpotensi bertahan hingga semester I-2027.
Fenomena El Nino dapat memperpanjang tekanan harga sejumlah komoditas, sehingga menjadi risiko bagi emiten yang sensitif terhadap biaya bahan baku, terutama MYOR.
Sebaliknya, KLBF dinilai relatif lebih terlindungi dari dampak El Nino.
Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada struktur biaya bahan baku perusahaan serta sensitivitas biaya input terhadap harga minyak.
Di tengah tantangan tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor barang konsumsi.
Dari sisi aliran dana, investor domestik dinilai telah memiliki eksposur yang cukup besar terhadap sektor ini, sehingga tambahan permintaan saham berpotensi berasal dari investor asing.
Selain itu, sektor barang konsumsi menawarkan imbal hasil dividen sebesar 10,8 persen, lebih tinggi dibandingkan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sebesar 7,2 persen.
Selisih tersebut dinilai memberikan daya tarik dari sisi risiko dan potensi imbal hasil.
Dalam urutan preferensi saham, Indo Premier menempatkan KLBF sebagai pilihan utama, diikuti CMRY, ICBP, MYOR, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan SIDO.
Meski demikian, rekomendasi tersebut tetap menghadapi risiko apabila harga bahan baku bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan dan daya beli masyarakat terus melemah. (Aldo Fernando)