Membedah Prospek Saham Merdeka Group, Pilih MBMA, MDKA, atau EMAS?
Prospek saham-saham di bawah Merdeka Group dinilai masih menjanjikan, dengan potensi kenaikan yang besar dan risiko penurunan yang relatif terkelola.
IDXChannel - Prospek saham-saham di bawah Merdeka Group dinilai masih menjanjikan, dengan potensi kenaikan yang besar dan risiko penurunan yang relatif terkelola.
Dalam riset yang terbit pada 19 Januari 2026, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebagai pilihan utama, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Untuk MBMA, Indo Premier menilai risiko kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih relatif dapat dikelola.
Berdasarkan hasil pengecekan, perusahaan tambang yang memiliki fasilitas hilirisasi dinilai lebih berpeluang memperoleh persetujuan RKAB, sejalan dengan visi Kementerian ESDM untuk menyeimbangkan pasokan bijih dan kebutuhan smelter.
Meski terdapat risiko tambahan biaya jika persetujuan RKAB bersifat parsial, yang berpotensi menaikkan biaya tunai (cash cost) nikel pig iron (NPI) sekitar USD180-USD850 per ton, tekanan tersebut dinilai dapat diimbangi oleh kenaikan harga NPI sekitar USD1.300 per ton dari level terendahnya menjadi USD12.800 per ton, yang diperkirakan bertahan hingga 2026.
Selain itu, potensi kenaikan premi bijih limonit dapat menambah laba MBMA sekitar USD8-USD39 juta, atau setara 4-21 persen dari estimasi laba 2026.
Sementara itu, EMAS diproyeksikan menikmati lonjakan kinerja seiring kenaikan harga emas. Indo Premier memperkirakan potensi kenaikan laba per saham (EPS) sebesar 11-34 persen pada 2026, didukung peningkatan kapasitas input heap leach (HL) menjadi sekitar 8 juta ton, yang berpotensi menambah produksi emas sekitar 13 ribu ons.
Akselerasi pembangunan fasilitas CIL satu tahap juga dinilai dapat mempercepat pencapaian produksi puncak sekitar 500 ribu ons, lebih cepat dibandingkan rencana sebelumnya.
Kemudian, untuk MDKA, katalis utama berasal dari potensi masuknya mitra strategis pada proyek tembaga Tujuh Bukit (TB).
Indo Premier menilai keberhasilan menggandeng mitra, baik melalui kepemilikan minoritas maupun mayoritas, akan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan valuasi, mengingat kompleksitas teknis proyek tambang bawah tanah tersebut.
Secara keseluruhan, Indo Premier mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor pertambangan logam.
Dibandingkan sektor lain di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sektor ini dinilai menawarkan pertumbuhan laba per saham (EPS) yang lebih unggul, dengan MBMA menjadi saham yang paling menarik dari sisi valuasi, momentum laba, dan kejelasan katalis ke depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.