Menakar Dampak El Nino dan Karhutla terhadap Emiten Consumer
Fenomena El Nino dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor consumer staples.
IDXChannel – Fenomena El Nino dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan belum memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor consumer staples di Indonesia pada paruh kedua 2026.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Baruna Arkasatyo dan Edward Halim menilai dampak karhutla terhadap pendapatan emiten consumer staples akan relatif terbatas, meski Indonesia tengah menghadapi El Nino dan musim kemarau berkepanjangan.
Dalam riset yang diterbitkan pada 28 Agustus 2026, kedua analis tersebut menyebut El Nino mulai terjadi sejak akhir Juni 2026.
Berdasarkan Oceanic Nino Index (ONI) milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), rata-rata suhu permukaan laut selama tiga bulan hingga Juli 2026 telah mencapai sekitar 1,4 derajat Celsius di atas normal dan mendekati kategori El Nino kuat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Agustus 2026 melaporkan kondisi El Nino yang sangat kuat.
Fenomena tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus-September 2026 dan berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang hingga awal 2027.
Di tengah kondisi tersebut, kebakaran hutan juga menjadi perhatian. CGSI mengutip laporan The Straits Times pada 20 Agustus 2026 yang menyebut area terdampak kebakaran di Indonesia telah mencapai lebih dari 200.000 hektare, dengan Kalimantan menjadi episentrum kebakaran.
Luas area terbakar tersebut bahkan telah melampaui tingkat yang tercatat pada periode yang sama dalam peristiwa kebakaran 2019 dan 2023.
CGSI menilai kabut asap dan memburuknya kualitas udara berpotensi meningkatkan pengeluaran masyarakat untuk perlindungan kesehatan, khususnya kebutuhan terkait pernapasan. Di sisi lain, mobilitas masyarakat juga berpotensi terganggu.
Meski demikian, CGSI melihat dampak langsung terhadap pendapatan perusahaan consumer staples kemungkinan tetap terbatas.
Daya beli jadi faktor utama
CGSI mencatat pertumbuhan penjualan consumer staples secara kuartalan memang cenderung melemah dibandingkan tahun sebelumnya selama periode El Nino pada 2009-2010, 2013-2014, dan 2023-2024.
Pada periode 2013-2014 dan 2023-2024, pelemahan pertumbuhan bahkan berlanjut dalam rata-rata empat kuartal berikutnya dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, menurut CGSI, pelemahan tersebut tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan El Nino. Faktor eksternal yang memengaruhi daya beli masyarakat juga berperan terhadap perlambatan pendapatan perusahaan consumer staples.
Selain itu, kenaikan harga komoditas lunak dan pangan yang mudah bergejolak tidak selalu terjadi ketika El Nino berlangsung.
CGSI juga melihat intervensi pemerintah semakin berperan dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama setelah pengalaman El Nino yang cukup intens pada 2013-2014.
Dampak karhutla dinilai terbatas
CGSI memperkirakan karhutla hanya memberikan dampak terbatas terhadap pendapatan perusahaan consumer staples pada semester II-2026.
Kalimantan, yang menjadi pusat kebakaran saat ini, menyumbang sekitar 8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Kontribusi wilayah tersebut terhadap pasar grocery nasional juga sekitar 8 persen per Juni 2026 berdasarkan data NielsenIQ.
Artinya, meskipun dampak terhadap aktivitas ekonomi di Kalimantan perlu diperhatikan, kontribusi wilayah tersebut terhadap pasar consumer staples nasional relatif kecil.
Temuan tersebut juga didukung oleh kunjungan CGSI dan diskusi dengan manajemen PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) pada 24 Agustus 2026.
Sebagai informasi, sekitar 55 persen gerai Alfamidi milik MIDI berada di luar Pulau Jawa hingga Juni 2026.
Namun, perusahaan masih mencatat pertumbuhan penjualan di toko yang sama atau same-store sales growth (SSSG) yang relatif kuat, yakni sekitar 3 persen secara tahunan pada Juli dan meningkat menjadi 7 persen pada Agustus 2026.
CGSI menilai tren tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi masih cukup terjaga meskipun sejumlah wilayah menghadapi dampak El Nino dan karhutla.
Di sisi lain, berbagai kebijakan pemerintah juga diperkirakan membantu menopang daya beli.
Langkah tersebut antara lain bantuan pangan dalam bentuk barang, subsidi pupuk, asuransi panen, bantuan benih gratis bagi petani, modifikasi cuaca, pembangunan infrastruktur air di sejumlah provinsi prioritas, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta Koperasi Merah Putih (KopDes).
Tetap overweight
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, CGSI mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor consumer staples.
CGSI memperkirakan pemulihan daya beli masyarakat akan berlangsung secara bertahap dan momentum penjualan masih dapat berlanjut hingga semester II-2026.
Dua saham menjadi pilihan utama CGSI, yakni PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Keduanya dinilai memiliki ruang yang cukup untuk memulihkan pertumbuhan pendapatan, baik melalui peningkatan pangsa pasar maupun ekspansi distribusi.
CGSI menyebut katalis positif bagi sektor tersebut antara lain penciptaan lapangan kerja yang lebih agresif oleh pemerintah, tambahan stimulus, serta peningkatan disiplin fiskal.
Sebaliknya, risiko yang perlu diperhatikan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih tinggi dari perkiraan serta realisasi belanja pemerintah yang lebih lambat dari ekspektasi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.