MARKET NEWS

Menakar Dampak Lonjakan Harga Minyak Brent pada Emiten Consumer

TIM RISET IDX CHANNEL 06/03/2026 11:50 WIB

Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sejak eskalasi di Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan biaya bahan baku bagi perusahaan consumer staples.

Menakar Dampak Lonjakan Harga Minyak Brent pada Emiten Consumer. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sejak eskalasi di Timur Tengah pada 28 Februari lalu dinilai berpotensi meningkatkan biaya bahan baku bagi perusahaan consumer staples.

Kenaikan harga minyak berdampak pada biaya kemasan, gula, hingga bahan aktif farmasi (API).

Mengutip riset Indo Premier Sekuritas yang diterbitkan pada 4 Maret 2026, sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi mendorong produsen gula tebu mengalihkan sebagian produksinya ke etanol, sehingga pasokan gula berkurang dan harganya naik.

Begitu pula, harga API berpotensi meningkat karena keterkaitannya dengan energi dan petrokimia.

Dari analis Indo Premier, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi perusahaan yang paling terdampak, mengingat margin laba bersihnya lebih rendah dibandingkan pesaing.

Sensitivitas riset menunjukkan setiap kenaikan 5 persen pada biaya bahan baku bisa menurunkan laba tahun buku 2026 MYOR hingga 6,1 persen.

“Hasil diskusi kami dengan perusahaan consumer staples menunjukkan bahwa mereka saat ini tengah memantau dampak kenaikan harga Brent oil terhadap biaya bahan baku sebelum memutuskan apakah akan menaikkan harga jual produk,” tulis analis Indo Premier.

Selain itu, apresiasi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah juga memengaruhi kinerja beberapa emiten.

Dari enam perusahaan yang dianalisis, Unilever Indonesia (UNVR) dan Cisarua Mountain Dairy (CMRY) paling terdampak karena eksposur biaya dan pendapatan mereka dalam dolar AS.

Setiap penguatan 5 persen USD/IDR (dolar AS/rupiah) diperkirakan menekan laba tahun buku 2026 UNVR hingga 3,7 persen dan CMRY 3,6 persen.

Meski begitu, valuasi sektor consumer staples saat ini relatif menarik, berada di 12,5 kali perkiraan price-to earnings (P/E) ratio 12 bulan ke depan, atau 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Penjualan sejak kuartal IV-2025 hingga Februari 2026 mulai pulih, didorong stimulus pemerintah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini, dengan urutan preferensi dimulai dari MYOR, diikuti CMRY, ICBP, KLBF, UNVR, dan SIDO.

Risiko utama tetap berasal dari ketegangan geopolitik yang berkepanjangan dan daya beli konsumen yang melemah. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE