Menanti Kinerja Q3-2026, Ruang Pertumbuhan Laba Emiten Logam Menyempit
Prospek saham emiten tambang logam mulai menghadapi sejumlah tantangan menjelang rilis kinerja kuartal III-2026.
IDXChannel – Prospek saham emiten tambang logam mulai menghadapi sejumlah tantangan menjelang rilis kinerja kuartal III-2026.
Meski pendapatan dan laba bersih sektor diproyeksikan tetap tumbuh, pelemahan harga sejumlah komoditas serta tingginya realisasi laba sepanjang sembilan bulan pertama membuat ruang pertumbuhan hingga akhir tahun semakin terbatas.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) pada 16 Oktober 2026, rekomendasi sektor metal mining diturunkan dari overweight menjadi neutral.
Untuk kuartal III-2026, pendapatan sektor tambang logam yang dicakup BRIDS diproyeksikan mencapai USD4,9 miliar, naik 3,8 persen secara kuartalan dan 91,3 persen secara tahunan.
Pertumbuhan terutama ditopang ramp-up smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) serta peningkatan penjualan bijih PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Namun, peningkatan pendapatan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba operasi.
Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) diperkirakan turun menjadi 29,8 persen dari 30,4 persen pada kuartal II-2026.
Sementara itu, margin laba operasi (operating profit margin/OPM) diproyeksikan turun menjadi 24,8 persen dari 27,1 persen.
Dengan demikian, laba operasi sektor diperkirakan turun 4,8 persen secara kuartalan. Di sisi lain, laba bersih diproyeksikan naik 5,9 persen secara kuartalan menjadi USD896 juta.
Pertumbuhan laba bersih tersebut tidak merata.
Kinerja PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diperkirakan masih bergantung pada kontribusi dari pos-pos di bawah laba operasi.
Sementara itu, laba bersih PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) diproyeksikan turun 18,6 persen secara kuartalan.
Tekanan terhadap prospek sektor juga terlihat dari realisasi laba.
BRIDS memperkirakan laba bersih sektor sepanjang sembilan bulan pertama 2026 telah mencapai 82 persen dari proyeksi tahun buku 2026 dan 83 persen dari konsensus pasar.
Artinya, porsi laba yang harus dikejar pada kuartal IV-2026 semakin besar, sementara ruang untuk kejutan positif terhadap ekspektasi pasar menjadi lebih terbatas.
Dari sisi komoditas, kinerja masing-masing subsektor juga bergerak berbeda. Harga tembaga mendekati rekor di USD14.550 per ton, sedangkan treatment charge (TC) tembaga spot berada di minus USD230 per ton.
Harga timah juga bertahan di atas USD50.000 per ton.
Kondisi tersebut didukung penurunan stok di London Metal Exchange (LME) yang telah berkurang sekitar separuh dari level puncaknya pada Juni 2026.
Sebaliknya, harga emas telah turun sekitar 26 persen dari puncaknya pada Januari 2026, seiring real yield Amerika Serikat yang berada di sekitar 3 persen.
Harga nikel LME juga berada di level terendah tahun ini dengan stok yang terlihat mendekati rekor, sekitar 480.000 ton.
Tekanan lain berasal dari biaya produksi.
Harga minyak mentah Brent yang berada di atas USD100 per barel dan sulfur sekitar USD1.200 per ton berpotensi menekan margin fasilitas high-pressure acid leaching (HPAL) dan rotary kiln electric furnace (RKEF).
Meski outlook sektor diturunkan menjadi neutral, sejumlah emiten masih memiliki katalis masing-masing.
AMMN menjadi pilihan utama dengan basis pertumbuhan yang ditopang volume. BRIDS memperkirakan laba AMMN pada sembilan bulan pertama 2026 telah mencapai 99 persen dari konsensus tahun buku 2026, sehingga terdapat potensi kenaikan terhadap ekspektasi laba pasar.
Untuk keyakinan terhadap pencapaian laba tahun buku 2026, urutan pilihan BRIDS adalah AMMN, PT Timah Tbk (TINS), INCO, ANTM, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), NCKL, dan MBMA.
Sementara dari sisi momentum kinerja kuartal III-2026, BRMS menempati posisi teratas, disusul INCO, AMMN, MBMA, NCKL, TINS, dan ANTM.
TINS juga dinilai memiliki ketahanan margin yang cukup baik. GPM perseroan pada kuartal III-2026 diproyeksikan mencapai 38 persen.
Selain itu, pangsa ekspor timah nasional TINS meningkat menjadi 56 persen sepanjang delapan bulan pertama 2026.
BRMS berpotensi kembali mencatatkan laba seiring normalisasi produksi. Namun, realisasi laba sembilan bulan pertama diperkirakan baru mencapai 47 persen dari proyeksi 2026.
Karena itu, saham BRMS dinilai lebih sesuai untuk strategi perdagangan menjelang rilis laporan keuangan dibandingkan sebagai core holding.
Di sisi lain, NCKL dan MBMA menghadapi risiko penurunan ekspektasi laba konsensus. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.