Menanti Saham ‘Burung Biru’ (BIRD) Kembali Terbang Tinggi
Emiten taksi, Blue Bird melakukan sejumah terobosan yang dapat mendongkrak kinerja perusahaan kedepannya.
IDXChannel – Emiten taksi, PT Blue Bird Tbk (BIRD), melakukan sejumlah terobosan belakangan ini yang berpotensi mendongkrak kinerja perusahaan kedepannya.
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas bertajuk “Blue Bird: Clear Winner of Higher Mobility” yang dirilis pada Rabu (8/2), BIRD menargetkan pertumbuhan topline hingga 20-30 persen dengan mengoptimalkan pendapatan rata-rata kendaraan (APRV) dan sejumlah strategi lainnya.
Adapun, pada 9 bulan 2022, BIRD membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 73 persen year on year (yoy) terutama didorong pendapatan dari taksi yang bertumbuh 80,4 persen yoy yang berkontribusi sebesar 79 persen terhadap pendapatan bersih perusahaan di periode ini.
“Pemulihan pandemi di tahun lalu yang didorong oleh mobilitas yang lebih besar setelah pelonggaran pembatasan mendorong peningkatan pendapatan BIRD pada 9 bulan 2022,” tulis BIRD.
Di samping itu, BIRD juga mencatatkan pemulihan ARPV dari kendaraan operasional baik dari taksi reguler maupun taksi eksekutif atau silverbird. (Lihat grafik di bawah ini.)
Informasi saja, BIRD saat ini memiliki 20 ribu kendaraan yang terdiri dari 14 ribu kendaraan untuk taksi dan sisanya untuk segmen layanan bus hingga logistik.
Dengan potensi tersebut, BIRD meningkatkan armadanya dengan tingkat utilisasi 60,7 persen pada 2022 menjadi 72,9 persen pada 2023.
Ke depannya, BIRD menargetkan untuk dapat memanfaatkan 80-90 persen armadanya dengan mengandalkan perbaikan mobilitas pasca pelonggaran mobilitas di Jabodetabek yang merupakan wilayah yang menyumbang 85-90 persen pendapatan perusahaan.
Adapun pada 2023, BIRD menargetkan pertumbuhan topline 20-30 persen pada 2023 dengan mengoptimalkan ARPV dan tingkat pemanfaatannya.
“Optimalisasi ARPV dapat dilakukan terutama menggunakan teknologi pemetaan pesanannya yang memungkinkan setiap armada dapat melayani daerah dengan permintaan tinggi secara real-time,” tulis riset tersebut.
Adapun, dalam merealisasikan target tersebut, BIRD menggulirkan sejumlah strategi, salah satunya adalah pemanfaatan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Menurut riset BRI Danareksa sekuritas, BIRD menargetkan 10 persen dari amadanya menggunakan EV pada 2023. Untuk strategi ini, BIRD berencana membelanjakan Rp15,5 triliun hingga Rp1,9 triliun untuk capex tahun ini.
Dari capex tersebut, BIRD menargetkan untuk membeli 6 ribu kendaraan baru yang terdiri dari 3 ribu kendaraan untuk restorasi armada dan 3 ribu kendaraan baru lainnya untuk segala segmen.
Selain itu, guna mengoptimalkan pendapatan bersih perusahaan, BIRD menyediakan layakan pemasangan iklan di armadanya.
Melansir laporan CGS CIMB bertajuk “Sales Alpha Series”, pada Februari 2023, monetisasi melalui layanan iklan dan strategi lainnya bisa menambah 25-75 persen pertumbuhan EPS.
Mengenai layanan iklan, CGS CIMB menjelaskan, dengan memanfaatkan 14 ribu armada yang beroperasi untuk taksi reguler, BIRD dapat membukukan laba bersih Rp336 miliar atau naik hingga 75 persen dari proyeksi 2023 berkat segmen layanan iklan.
Selain mengoptimalkan layanan iklan, BIRD juga memiliki sejumlah strategi dalam menambah pundi-pundi keuntungan perusahaan.
Adapun, strategi tersebut meliputi layanan manajemen armada hingga monetisasi aplikasi MyBlueBird.
Dengan potensi tersebut, kinerja BIRD kedepannya juga berpotensi terdongkrak, mengingat harga saham BIRD saat ini sudah reli hingga 17 persen dalam 10 hari terakhir.
Melansir Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/2), harga saham BIRD dalam sebulan terakhir sudah terkerek hingga 29,50 persen.
Sedangkan, sepanjang tahun 2023, saham BIRD menghijau hingga 27,66 persen.
Tak hanya mencatatkan harga saham yang melaju di awal 2023, BIRD juga memiliki valuasi saham yang menarik.
Data BEI per Jumat (10/2) mencatat, rasio price to book value (PBV) dari BIRD berada di 0,89 kali. Artinya, valuasi saham BIRD tergolong murah karena berada di bawah rule of thumb, yakni 1 kali.
Sedangkan, untuk price earnings ratio (PER) emiten taksi ini sebesar 12,96 kali, lebih tinggi dari rule of thumb yang berada di 10 kali.
Periset: Melati Kristina
(ADF)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.