MARKET NEWS

Musim Laporan Keuangan Semester I-2026 Bawa Angin Segar ke Pasar

TIM RISET IDX CHANNEL 04/08/2026 06:35 WIB

Musim laporan keuangan kuartal II-2026 atau semester I-2026 membawa angin segar bagi pasar saham Indonesia.

Musim Laporan Keuangan Semester I-2026 Bawa Angin Segar ke Pasar. Foto: MNC Media)

IDXChannel - Musim laporan keuangan kuartal II-2026 atau semester I-2026 membawa angin segar bagi pasar saham Indonesia.

Analis menilai jumlah emiten yang membukukan kinerja di bawah ekspektasi menjadi yang paling sedikit dalam tiga tahun terakhir, memberi sinyal bahwa fase terburuk penurunan laba korporasi mulai mereda.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana dalam riset yang diterbitkan pada 3 Agustus 2026 menyebut hanya tujuh dari 40 emiten yang mereka pantau, atau sekitar 18 persen, mencatatkan laba di bawah ekspektasi pasar.

Persentase tersebut menjadi yang terendah sepanjang periode 2023-2026, bahkan lebih baik dibandingkan rekor sebelumnya sebesar 20 persen pada kuartal I-2023.

Menurut CGSI, membaiknya kualitas laporan keuangan tersebut memang tidak lepas dari ekspektasi laba investor yang sebelumnya sudah cukup rendah.

Namun demikian, hasil semester I-2026 secara umum mampu memenuhi konsensus Bloomberg dan menunjukkan perbaikan dibandingkan kuartal I-2026 yang sedikit meleset dari perkiraan.

Meski ketidakpastian masih membayangi prospek semester II-2026 akibat fluktuasi harga minyak dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, CGSI optimistis kinerja perusahaan tidak akan kembali mengecewakan seperti yang terjadi pada 2024-2025.

Perbaikan kinerja paling terlihat pada sektor pertanian serta minyak dan gas (migas).

Secara keseluruhan, laba inti emiten yang berada dalam cakupan riset CGSI tumbuh 26 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026, meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan 3 persen pada kuartal I-2026.

Akselerasi tersebut turut didukung basis perbandingan yang rendah (low base) pada kuartal II-2025 serta kuatnya harga komoditas.

Dari sisi sektoral, emiten teknologi, termasuk perusahaan e-commerce, serta sektor ritel menjadi kelompok yang mencatatkan hasil di atas ekspektasi. Kinerja peritel ditopang oleh membaiknya laba PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).

Sebaliknya, emiten pengelola rumah sakit menjadi sektor yang paling mengecewakan akibat masih lemahnya permintaan layanan kesehatan.

Sementara itu, sejumlah sektor lain membukukan hasil yang sesuai dengan ekspektasi pasar, meliputi perkebunan kelapa sawit, telekomunikasi dan menara telekomunikasi, barang konsumsi, farmasi, perbankan dan jasa keuangan, serta properti.

CGSI mencatat pertumbuhan laba sektor perbankan dan jasa keuangan meningkat dari 11 persen secara tahunan pada kuartal I-2026 menjadi 14 persen pada kuartal II-2026.

Di sektor barang konsumsi, pertumbuhan laba melonjak dari 10 persen menjadi 25 persen secara tahunan.

Menurut CGSI, kenaikan tersebut dipengaruhi penjualan pasca-Lebaran yang tidak sekuat perkiraan di beberapa segmen, termasuk produk susu, sehingga ekspektasi pasar menjadi lebih rendah.

Sementara itu, produsen kelapa sawit dan sejumlah perusahaan tambang menikmati lonjakan laba berkat harga komoditas yang masih menguntungkan.

Produsen rokok juga mencatat perbaikan kinerja setelah berhasil menaikkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP), didukung kebijakan cukai yang lebih kondusif serta penindakan terhadap peredaran rokok ilegal.

Di tengah membaiknya musim laporan keuangan, CGSI juga memperbarui daftar saham unggulan mereka.

Tiga saham, yakni PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dikeluarkan dari daftar top picks.

Ketiganya digantikan oleh PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), serta PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang dinilai memiliki momentum pertumbuhan laba lebih kuat dalam jangka pendek.

Dengan perubahan tersebut, daftar saham unggulan CGSI kini terdiri atas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), UNVR, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS), JPFA, MAPA, BFIN, dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

Selain mencermati kinerja emiten, CGSI menilai pasar juga akan dihadapkan pada sejumlah agenda penting sepanjang Agustus yang berpotensi memicu volatilitas.

Beberapa di antaranya adalah pembaruan status pembekuan (freeze) Indonesia dalam indeks FTSE pada 10-14 Agustus, penyampaian rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 pada 16 Agustus, serta potensi pengumuman gubernur baru Bank Indonesia (BI) pada periode 14-31 Agustus 2026.

Meski masih mewaspadai tingginya volatilitas akibat ketidakpastian ekonomi dan kebijakan pemerintah, CGSI tetap mempertahankan pandangan yang hati-hati optimistis terhadap prospek pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE