MARKET NEWS

Pasar Bergejolak, Astra (ASII) Kembali Jadwalkan Buyback Rp2 Triliun

Desi Angriani 13/03/2026 18:27 WIB

Buyback saham tersebut akan dilakukan mulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026 pada harga yang dianggap baik dan wajar.

Pasar Bergejolak, Astra (ASII) Kembali Jadwalkan Buyback Rp2 Triliun (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Astra International Tbk (ASII) kembali menjadwalkan buyback saham dengan total nilai Rp2 triliun di tengah gejolak pasar.

Hingga penutupan perdagangan, Jumat (13/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 3,05 persen ke level 7.137. Sementara itu, saham ASII terkoreksi 2,10 persen ke Rp5.825 dengan mengakumulasi penurunan 7,91 persen dalam sepekan.

Buyback saham tersebut akan dilakukan mulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026 pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh perseroan.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, jumlah saham yang dibeli kembali tidak melebihi 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Astra memastikan jumlah saham beredar di publik (free float) setelah pelaksanaan buyback tetap terjaga, dengan porsi minimal 7,5 persen dari modal ditempatkan dan disetor.

Dalam pelaksanaan buyback, perseroan akan menggunakan dana internal alias bukan dari pinjaman atau dana
hasil penawaran umum. 

"Pelaksanaan pembelian kembali saham tidak memiliki dampak negatif yang material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan," tulis manajemen Astra dalam keterbukaan informasi, Jumat (13/3/2026).

Sebelumnya, Astra telah merealisasikan buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp2 triliun pada periode 19 Januari hingga 25 Februari 2026. 

Dalam periode tersebut, perseroan menyerap sebanyak 104,85 juta saham dengan total nilai Rp685 miliar, yang mencerminkan harga pembelian rata-rata Rp6.533 per saham.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari program buyback sebelumnya dengan nilai maksimal Rp2 triliun, di mana seluruh dana tersebut telah terserap untuk membeli 305,21 juta saham.

Dengan demikian, total saham yang telah dibeli kembali Astra dalam dua periode mencapai sekitar 410 juta saham atau kurang dari 1 persen dari total saham beredar.

(DESI ANGRIANI)

SHARE