MARKET NEWS

Pasar Bersiap Dampak Serangan AS-Israel ke Iran, Harga Minyak Berpotensi Terbang

TIM RISET IDX CHANNEL 02/03/2026 06:19 WIB

Harga minyak dunia diperkirakan melonjak tajam saat perdagangan dibuka kembali pada Senin (2/3/2026), menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.

Pasar Bersiap Dampak Serangan AS-Israel ke Iran, Harga Minyak Berpotensi Terbang. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia diperkirakan melonjak tajam saat perdagangan dibuka kembali pada Senin (2/3/2026), menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran yang memicu eskalasi baru di Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik yang meningkat tajam ini menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Pelaku pasar menyebut, minyak Brent melonjak sekitar 10 persen ke level USD80 per barel dalam perdagangan over the counter pada Minggu (1/3).

Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga berpotensi menembus USD100 per barel jika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.

Direktur energi dan pengilangan di ICIS, Ajay Parmar, mengatakan, dikutip Reuters, faktor kunci yang menentukan arah harga bukan hanya serangan militer itu sendiri, melainkan potensi penutupan Selat Hormuz.

“Serangan militer memang mendukung kenaikan harga minyak, tetapi faktor utama di sini adalah penutupan Selat Hormuz,” ujarnya.

Sumber perdagangan menyebutkan, sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz.

Langkah ini diambil setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi jalur tersebut.

Lebih dari 20 persen pasokan minyak global diangkut melalui Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di kawasan ini langsung memicu lonjakan premi risiko.

Parmar memperkirakan harga minyak saat pasar dibuka kembali akan mendekati USD100 per barel, bahkan berpotensi melampaui level tersebut jika penutupan berlangsung lama.

Analis RBC Capital Markets, Helima Croft, juga mengungkapkan para pemimpin Timur Tengah telah memperingatkan Washington bahwa perang dengan Iran bisa mendorong harga minyak melampaui USD100 per barel.

Analis energi di Eurasia Group yang dikutip Reuters menilai harga minyak akan langsung melonjak saat pasar dibuka.

“Jika konflik berlanjut hingga Minggu, harga minyak berpotensi naik USD5-10 dari level dasar USD73 per barel, terutama setelah Iran mengklaim telah menutup Selat Hormuz dan terjadi gangguan lalu lintas tanker,” tulis mereka.

Sementara itu, analis energi di Barclays memperingatkan pasar minyak bisa menghadapi skenario terburuknya pada Senin.

“Dalam kondisi saat ini, Brent berpotensi menembus USD100 per barel, karena pasar bergulat dengan ancaman gangguan pasokan di tengah situasi keamanan Timur Tengah yang kian memburuk,” kata Barclays.

Analis strategi di OCBC Singapura, Christopher Wong, menilai serangan tersebut meningkatkan premi risiko geopolitik.

Ia memperkirakan aset lindung nilai seperti emas dibuka dengan lonjakan harga, sementara minyak menguat karena kekhawatiran pasokan.

Sebaliknya, aset berisiko dan mata uang dengan volatilitas tinggi berpotensi mengalami gejolak, terutama jika muncul kabar pembalasan lanjutan atau konflik meluas ke kawasan lain.

Pandangan serupa disampaikan CIO Vantage Point Asset Management, Nick Ferres.

Menurut dia, sektor energi masih relatif murah dan berpotensi reli pada awal pekan, bersama dengan emas.

Informasi saja, mengutip Reuters, minyak merupakan barometer utama ketegangan di Timur Tengah.

Melansir dari Reuters, Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Peristiwa tersebut mendorong kawasan Timur Tengah ke babak konflik baru. Negara-negara produsen minyak di Teluk Arab pun berada dalam siaga tinggi, terlebih setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.

Sejak awal tahun, harga minyak memang telah ditopang ketegangan geopolitik yang persisten. (Aldo Fernando)

SHARE