Pasar Reli Usai BI Kerek Suku Bunga, Pergerakan Rupiah Jadi Fokus Investor
BI perlu mengambil langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah, termasuk melalui peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
IDXChannel - Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026) mendapat sambutan positif dari pasar keuangan.
Langkah ini sebagai respons terhadap pelemahan rupiah yang berlangsung lebih dalam dari perkiraan sejak RDG Mei 2026.
Di mana rupiah sempat ditutup di level terendah sepanjang sejarah pada Senin (8/6/2026) di Rp18.178 per USD.
Usai pengumuman di luar RDG bulanan tersebut, rupiah berhasil menguat 0,65 persen dan ditutup di level Rp18.060 per USD pada Selasa (9/6/2026).
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga naik 14 bps menjadi 7,4 persen, atau tertinggi sejak November 2022.
Menurut Stockbit, BI perlu mengambil langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah, termasuk melalui peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik guna menarik kembali aliran dana asing ke pasar Indonesia.
Dari pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan 7,6 persen dalam sehari. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 26 Maret 2020 ketika IHSG melonjak 10,2 persen dalam satu sesi perdagangan.
Stockbit mencatat, reli pasar berlangsung secara luas dengan sebanyak 678 saham ditutup menguat, sementara hanya 90 saham yang mengalami penurunan harga.
Penguatan tajam IHSG menunjukkan pasar menyambut positif upaya regulator dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
"Setelah turun signifikan sekitar 38 persen sejak awal tahun hingga 8 Juni 2026, pasar tampak merespons positif langkah regulator untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan pasar modal Indonesia," tulis Stockbit Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, Stockbit mengingatkan investor untuk tetap mencermati pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, pengalaman setelah kenaikan BI Rate sebesar 50 bps pada 20 Mei 2026 menunjukkan bahwa penguatan rupiah saat itu hanya berlangsung sementara sebelum kembali mengalami tekanan.
(DESI ANGRIANI)