MARKET NEWS

Pasar Waspadai Konflik AS-Iran, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.948

Anggie Ariesta 20/07/2026 17:18 WIB

Tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari sentimen global setelah konflik AS-Iran kembali memanas.

Pasar Waspadai Konflik AS-Iran, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.948 (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.948 per USD pada perdagangan Senin (20/7/2026).

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari sentimen global setelah konflik AS-Iran kembali memanas. Kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan, termasuk serangan AS terhadap sejumlah target di Iran.

"Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya," tulis Ibrahim dalam risetnya Senin (20/7/2026).

Menurutnya, eskalasi konflik kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz masih terganggu dan berada jauh di bawah tingkat sebelum konflik. Kondisi tersebut mendorong pasar memperhitungkan risiko kenaikan harga minyak yang dapat kembali memicu tekanan inflasi global.

Kenaikan harga energi juga menjadi perhatian investor karena dapat mempersulit langkah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam menurunkan inflasi. Suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menopang imbal hasil obligasi pemerintah dan memperkuat dolar AS.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai perlambatan investasi dalam negeri dan konsumsi rumah tangga masih menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 diperkirakan berada di sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy), meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy.

Namun, peningkatan investasi tersebut masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 27,5 persen yoy. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami kontraksi 7,8 persen yoy, menjadi penurunan pertama sejak kuartal I-2021.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih memiliki kepercayaan terhadap prospek Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.

Sebaliknya, pelaku usaha domestik cenderung menahan ekspansi akibat lemahnya permintaan, tingginya biaya pendanaan, dan ketidakpastian ekonomi.

Pemerintah, lanjutnya, perlu menjaga keseimbangan antara agenda hilirisasi dengan pengembangan sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas, seperti manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi.

Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi di kisaran Rp17.940-Rp18.000 per USD pada perdagangan berikutnya.

(DESI ANGRIANI)

SHARE