Passive AUM Indeks FTSE Capai Rp36 Triliun, Puluhan Saham Indonesia Berisiko Kehilangan Dana Asing
Hasil Semi-Annual Review September 2026 FTSE Russell menjadi perhatian investor pasar modal Indonesia.
IDXChannel - Hasil Semi-Annual Review September 2026 FTSE Russell menjadi perhatian investor pasar modal Indonesia.
Pasalnya, tidak ada satu pun saham Indonesia yang naik kelas atau mendapat tambahan konstituen baru, sementara puluhan saham justru mengalami penurunan kelas hingga terdepak dari indeks global.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap arus dana pasif yang mengikuti indeks FTSE.
Berdasarkan riset CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) pada 23 Juli 2026, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) yang melacak indeks FTSE sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara sekitar Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun.
Besarnya dana yang mengikuti indeks FTSE membuat setiap perubahan konstituen maupun bobot saham Indonesia berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh investor pasif.
Dalam review kali ini, kategori Large Cap Indonesia tidak mengalami perubahan. Namun, tekanan terjadi pada kelompok Mid Cap, Small Cap, dan Micro Cap.
Di kategori Mid Cap, tidak ada saham yang ditambahkan. Sementara itu, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dikeluarkan dari Mid Cap dan langsung turun ke kategori Micro Cap, sehingga melewati kategori Small Cap.
Di kategori Small Cap, FTSE Russell mencoret 10 saham, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT MDS Retailing Tbk (LPPF).
Kemudian, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).
Dari 10 saham tersebut, sembilan saham turun ke kategori Micro Cap. Sementara SILO langsung terdepak dari FTSE All-Cap Indonesia.
Tekanan terbesar terjadi di kategori Micro Cap. Sebanyak 28 saham dikeluarkan dari semesta indeks FTSE global, yakni ADHI, ASSA, ALII, AGRO, BVIC, CASS, CFIN, BWPT, CARS, WOOD, DILD, JTPE.
Nama-nama lainnya, JKON, OMED, KEEN, MAIN, MAHA, MSTI, MDLA, MLPL, PBID, PANS, PNIN, PTPP, PRDA, RALS, ISSP, dan TPMA.
Dengan demikian, review September kali ini menciptakan ketidakseimbangan antara potensi inflow dan outflow.
Tidak adanya saham yang naik kelas atau masuk baru berarti hampir tidak terdapat katalis dari sisi penambahan eksposur dana pasif, sementara demosi dan deletion berpotensi mendorong investor yang mereplikasi indeks untuk melakukan penyesuaian kepemilikan.
Meski demikian, besarnya passive AUM FTSE tidak berarti seluruh dana sekitar Rp36 triliun tersebut akan keluar dari Indonesia.
Dampak aktual bergantung pada bobot masing-masing saham dalam indeks, perubahan kapitalisasi pasar, serta strategi dan mandat pengelola dana.
Namun, semakin besar perubahan bobot atau status suatu saham dalam indeks, semakin besar pula potensi kebutuhan rebalancing oleh dana pasif.
FTSE Russell juga masih memperpanjang masa observasi terhadap reformasi pasar modal Indonesia.
FTSE menunda full re-ranking antar-tier kapitalisasi, kenaikan free float, penyesuaian Weight Adjustment Factor (WAF) dari nol ke positif, serta penambahan saham baru dan IPO Indonesia setidaknya hingga review Desember 2026.
FTSE Russell sebelumnya telah menahan penambahan saham baru Indonesia sejak Februari 2026.
Sebagian pencoretan juga berkaitan dengan aturan Free Float Restrictions FTSE. Saham yang menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari regulator dapat dihapus pada review berikutnya.
Perubahan konstituen tersebut akan berlaku efektif mulai perdagangan Senin, 21 September 2026. Review FTSE Russell berikutnya dijadwalkan pada awal Desember 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.