Pendapatan WBSA Naik Jadi Rp1,95 Triliun di Semester I-2026, Seluruh Segmen Usaha Moncer
PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,95 triliun pada semester I-2026.
IDXChannel - PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,95 triliun pada semester I-2026. Angka ini meningkat 42,6 persen YoY dibandingkan Rp1,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah pertumbuhan pendapatan yang kuat, profitabilitas WBSA menghadapi tekanan selama semester I-2026. Laba kotor tercatat sebesar Rp139,7 miliar, dibandingkan Rp176,3 miliar pada semester I-2025, sementara laba usaha mencapai Rp34,7 miliar.
EBITDA tercatat sebesar Rp96,4 miliar, dibandingkan Rp103,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, sementara laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp1,0 miliar.
Dilansir dari pernyataan resmi WBSA, Selasa (1/9/2026), pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan pada seluruh segmen usaha perseroan.
Ditinjau dari struktur pendapatan, segmen Freight Forwarding mencatat pertumbuhan tertinggi dengan pendapatan sebesar Rp1,17 triliun, meningkat 78,1 persen YoY dari Rp655,7 miliar pada semester I-2025 dan menjadi kontributor terbesar terhadap peningkatan pendapatan perseroan.
Pendapatan Land Transportation meningkat 8,8 persen YoY menjadi Rp648,1 miliar dari Rp595,5 miliar, sementara Warehousing & Storage tumbuh 15,4 persen YoY menjadi Rp132,8 miliar dari Rp115,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan di seluruh segmen memperbesar skala aktivitas dalam jaringan WBSA. Dalam model bisnis perseroan, pertumbuhan tidak hanya berasal dari penambahan pelanggan baru, tetapi juga dari semakin besarnya kebutuhan logistik pelanggan eksisting yang dapat dilayani melalui beberapa segmen sekaligus.
Hal ini membuka peluang cross-selling, yaitu menawarkan layanan logistik tambahan kepada pelanggan yang telah menggunakan salah satu layanan WBSA, serta meningkatkan wallet share, yaitu memperbesar porsi kebutuhan logistik pelanggan yang dapat dilayani oleh perseroan.
Tekanan profitabilitas antara lain dipengaruhi oleh penurunan aktivitas sektor pertambangan menyusul penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Kondisi tersebut mengurangi ketersediaan volume angkutan dan meningkatkan intensitas persaingan pada layanan logistik komoditas, sehingga menciptakan lingkungan harga yang lebih kompetitif.
Dalam kondisi tersebut, WBSA menjaga tingkat harga yang kompetitif untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan, kontinuitas volume di dalam jaringan, serta posisi perseroan di pasar.
WBSA memandang tekanan profitabilitas pada semester I-2026 lebih mencerminkan kondisi spesifik selama periode penyesuaian RKAB dan lingkungan persaingan yang lebih ketat, sehingga kinerja periode tersebut belum sepenuhnya merepresentasikan potensi profitabilitas dalam kondisi aktivitas logistik yang lebih seimbang.
WBSA juga melihat adanya ruang bagi volume dan margin untuk bergerak ke tingkat yang lebih sehat apabila aktivitas produksi kembali meningkat, meskipun waktu dan besarnya penyesuaian akan tetap mengikuti kebijakan pemerintah serta perkembangan aktivitas pelanggan.
Sejalan dengan strategi memperluas kapabilitas multimoda, WBSA telah menyelesaikan akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026.
Berdasarkan rencana penggunaan dana IPO, perseroan mengalokasikan Rp215 miliar untuk mengambil alih 99,99 persen saham BIL.
Melalui transaksi tersebut, WBSA memperoleh pengendalian atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), perusahaan operasional yang menjalankan layanan angkutan laut untuk berbagai kebutuhan kargo, termasuk dry bulk (komoditas curah kering), liquid bulk (komoditas curah cair), alat berat, kontainer, dan general cargo (kargo umum).
Integrasi marine shipping melengkapi kapabilitas multimoda WBSA dan memperluas jaringan perseroan untuk melayani kebutuhan logistik pelanggan lintas darat dan laut. Kapabilitas marine logistics tersebut didukung oleh jaringan lebih dari 300 kapal dan lebih dari 100 pemilik kargo, dengan cakupan operasional di berbagai wilayah Indonesia.
Penambahan kapabilitas ini memperluas cakupan geografis dan jenis kargo yang dapat dilayani perseroan, sekaligus memperkuat kemampuan WBSA untuk menyediakan solusi logistik yang lebih menyeluruh kepada pelanggan.
Integrasi antarmoda juga membuka peluang peningkatan koordinasi jadwal pengiriman, pengurangan waktu transit, serta percepatan truck turnaround, yaitu waktu yang dibutuhkan truk sejak memasuki proses bongkar-muat hingga kembali siap menjalankan perjalanan berikutnya. Semakin singkat truck turnaround, semakin besar potensi jumlah perjalanan yang dapat dilakukan dengan kapasitas yang sama, sehingga mendukung produktivitas operasional WBSA.
Outlook: Optimalkan Skala Jaringan dan Struktur Biaya
Setelah memperluas skala jaringan dan melengkapi kapabilitas multimoda, tahap berikutnya bagi WBSA adalah meningkatkan kualitas pertumbuhan dengan mengoptimalkan ekonomi dari jaringan yang semakin besar. Perseroan akan melanjutkan perluasan cakupan rute dan basis pelanggan, meningkatkan penetrasi pada pelanggan eksisting, mengoptimalkan kapasitas warehouse dan ILT, memperkuat jaringan keagenan dan layanan pelabuhan, serta meningkatkan cross-selling antar segmen.
Semakin besarnya volume yang terkonsolidasi juga memberikan WBSA lebih banyak data untuk memahami pola aktivitas berdasarkan sektor industri, wilayah operasional, rute, jenis layanan, hingga karakteristik penggunaan aset, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kombinasi moda, kapasitas, dan struktur biaya yang lebih efisien.
Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mengoptimalkan struktur biaya dan menentukan kombinasi kapasitas yang paling efisien untuk setiap karakteristik aktivitas logistik. Melalui hybrid asset model, WBSA dapat menyesuaikan penggunaan aset sendiri dan kapasitas mitra berdasarkan kebutuhan masing-masing rute dan pelanggan, sekaligus mengevaluasi penggunaan kendaraan konvensional, kendaraan listrik, maupun kombinasi solusi yang paling sesuai dari sisi operasional dan keekonomian.
Perseroan juga melanjutkan penggunaan electric truck pada proyek-proyek terpilih, khususnya untuk pelanggan sektor agrikultur, serta mengeksplorasi pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada fasilitas logistik.
Pemanfaatan data dan otomasi selanjutnya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi biaya dan daya saing perseroan dalam jangka panjang. Dengan visibilitas yang semakin baik terhadap pola permintaan dan penggunaan kapasitas, WBSA dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih tepat berdasarkan karakteristik pelanggan, rute, dan jenis layanan.
Dengan basis pendapatan yang semakin besar, kapabilitas multimoda yang semakin lengkap, serta ruang optimalisasi biaya yang masih dapat dikembangkan, perseroan melihat peluang untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan profitabilitas secara bertahap, yang pada akhirnya diharapkan mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
(Dhera Arizona)