MARKET NEWS

Perang Iran-AS Hampir Usai, Harga Minyak Terjun ke Bawah USD90 per Barel 

Rahmat Fiansyah 12/06/2026 08:00 WIB

Harga minyak dunia anjlok ke level terendah sejak April 2026 setelah Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Iran dapat diteken secepatnya akhir pekan.

Harga minyak dunia anjlok setelah Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Iran dapat diteken secepatnya akhir pekan. (Foto: AP)

IDXChannel - Harga minyak dunia anjlok ke level terendah sejak April 2026 setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran dapat diteken secepatnya akhir pekan ini. 

Harga minyak Brent yang menjadi acuan global turun ke USD89,4 per barel mengacu data OilPrice. Sedangkan, harga miyak WTI ke level USD86,67 per barel. Tekanan harga ini mencerminkan prospek berakhirnya konflik yang selama ini mengganggu jalur distribusi energi global.

Penurunan berlanjut usai Trump menyampaikan di Gedung Putih bahwa AS dan Iran telah menuntaskan isu-isu besar terkait perang dan proses penandatanganan dapat berlangsung akhir pekan ini di Eropa dengan kehadiran Wakil Presiden JD Vance.

Pernyataan tersebut muncul beberapa jam setelah Trump mengunggah pesan di media sosial bahwa AS membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Sebelumnya, dia juga menarik ancaman untuk mengambil alih Terminal Minyak Pulau Kharg yang menjadi fasilitas penting bagi ekspor minyak Teheran.

"Saya membatalkan serangan yang telah dijadwalkan," kata Trump melalui unggahan media sosialnya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (12/6/2026).

Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan Teheran belum menyetujui naskah kesepakatan apa pun dengan AS, mengutip sumber yang mengetahui proses negosiasi tersebut.

Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melalui laut sempat mengalami gangguan serius. Namun, pasar mulai berspekulasi bahwa risiko pasokan global akan mereda apabila kesepakatan damai benar-benar tercapai.

Kepala Strategi Makro dan Perdagangan Lintas Aset Buffalo Bayou Commodities, Frank Monkam mengatakan, perubahan sikap Washington yang kerap berganti dari ancaman militer menjadi dorongan perdamaian dalam waktu singkat dinilai membuat pelaku pasar kesulitan mengambil posisi.

"Pesan yang berubah-ubah dari pemerintahan Trump membatasi kemampuan trader minyak untuk menempatkan risiko secara percaya diri di pasar," ujarnya.

Harga minyak kini telah turun lebih dari seperempat dibandingkan puncaknya saat konflik Iran memanas. Aktivitas perdagangan juga relatif sepi, tercermin dari posisi open interest kontrak Brent yang turun ke level terendah sejak Maret 2025.

Pelaku pasar juga menilai penurunan harga dipengaruhi berbagai solusi alternatif yang membantu menjaga pasokan minyak global. Jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz terus meningkat. Trump bahkan menyebut lebih dari 100 juta barel minyak telah melewati jalur tersebut sejak dimulainya operasi rahasia AS untuk mendukung perdagangan maritim di kawasan itu.

Di sisi lain, upaya diplomasi mulai menunjukkan perkembangan. Uni Emirat Arab dan Iran dilaporkan menggelar pertemuan langsung pertama sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Teheran. Langkah tersebut menandakan semakin kuatnya dorongan negara-negara Teluk untuk mengakhiri konflik melalui jalur diplomatik. Namun, pasar tetap mencermati penurunan cadangan minyak global, termasuk di AS yang menyusut 15 juta barel dalam sepekan terakhir serta lebih dari 70 juta barel dalam lima pekan terakhir.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE