MARKET NEWS

Pergeseran Peta Otomotif: Dominasi Astra (ASII) Mulai Digoyang Merek China

TIM RISET IDX CHANNEL 29/05/2026 06:45 WIB

Peta persaingan industri otomotif nasional mulai berubah. Produsen mobil asal China kian agresif merebut pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Pergeseran Peta Otomotif: Dominasi Astra (ASII) Mulai Digoyang Merek China. (Foto: Toyota-Astra)

IDXChannel - Peta persaingan industri otomotif nasional mulai berubah. Produsen mobil asal China kian agresif merebut pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia dan mulai menggerus dominasi merek-merek Jepang yang selama ini mendominasi penjualan nasional.

Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan dalam riset yang terbit pada 26 Mei 2026 menilai pergeseran tersebut mulai terlihat jelas sepanjang empat bulan pertama 2026. Penjualan otomotif nasional tumbuh 12,5 persen secara tahunan menjadi 289.787 unit pada periode Januari-April 2026.

Namun, pertumbuhan itu dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil pasar kendaraan penumpang.

Lonjakan terutama ditopang kendaraan niaga (commercial vehicles) yang tumbuh 38,9 persen secara tahunan setelah dua tahun mengalami perlambatan. Sementara itu, pertumbuhan mobil penumpang (passenger cars) hanya naik 5,5 persen.

Di balik pertumbuhan moderat tersebut, demikian kata Rudy, terjadi perubahan struktural pada pangsa pasar kendaraan penumpang, terutama akibat meningkatnya penetrasi kendaraan elektrifikasi.

Menurut dia, kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), plug-in hybrid (PHEV), dan hybrid (HEV) kini menjadi sumber utama pertumbuhan volume baru di pasar otomotif domestik.

Produsen China seperti BYD, Chery/Jaecoo, Geely/Starray hingga AION disebut menjadi pemain yang paling agresif menangkap momentum tersebut.

Sejumlah model baru seperti Jaecoo J5 BEV, BYD Atto 1, Geely EX2, dan Starray EM-i disebut menyumbang sekitar 20 ribu unit penjualan hanya dalam satu kuartal.

MNC Sekuritas menilai kondisi ini bukan lagi sekadar tren sementara, melainkan awal perubahan struktural industri otomotif nasional.

Pangsa pasar gabungan merek China juga melonjak signifikan menjadi sekitar 17-18 persen pada Januari-April 2026, dibandingkan sekitar 10-11 persen pada periode yang sama tahun lalu.

“Kami menilai level ini mulai bersifat disruptif secara struktural, dengan pengaruh yang semakin besar terhadap penetapan harga, positioning produk, dan ketatnya persaingan di segmen pasar massal,” tulis Rudy dalam risetnya.

Tekanan juga datang dari melemahnya pangsa pasar Honda yang turun sekitar 4,6 poin persentase akibat kendala pasokan Brio Satya. Penurunan itu kemudian dimanfaatkan merek lain seperti Suzuki, Daihatsu, hingga produsen China untuk mengambil pangsa pasar.

MNC Sekuritas memperkirakan sebagian konsumen yang berpindah merek berpotensi tidak kembali lagi ke Honda meski pasokan mulai normal pada semester II-2026.

Di sisi lain, persaingan kendaraan hybrid di segmen SUV menengah dinilai semakin menarik. Model seperti Yaris Cross HEV, XL7 HEV, Rocky HEV, dan Fronx HEV dinilai berhasil membuktikan tingginya minat konsumen pada kendaraan elektrifikasi di rentang harga Rp200 juta-Rp350 juta.

Produsen Jepang disebut masih memiliki posisi kuat di segmen hybrid, sementara pemain China lebih fokus mendorong penetrasi mobil listrik murni di bawah Rp300 juta.

Salah satu ancaman terbesar bagi dominasi Jepang dinilai datang dari BYD M6 DM (Dual Mode). Mobil PHEV tersebut disebut berpotensi mengganggu pasar MPV nasional yang selama ini dikuasai Toyota Avanza-Daihatsu Xenia, Mitsubishi Xpander, hingga Suzuki XL7-Ertiga.

BYD M6 DM diperkirakan dijual pada kisaran Rp310 juta-Rp390 juta, namun menawarkan efisiensi bahan bakar yang jauh lebih tinggi dibandingkan hybrid konvensional.

BYD mengklaim konsumsi bahan bakarnya dapat mencapai sekitar 1:65 kilometer per liter, jauh di atas Veloz Hybrid yang berada di kisaran 1:28-29 kilometer per liter.

Menurut hemat Rudy, perpaduan teknologi, efisiensi, dan harga kompetitif berpotensi mempercepat disrupsi pasar MPV.

Ekspansi jaringan distribusi BYD yang kini mendekati 80 showroom juga dinilai mempercepat adopsi pasar.

Kondisi tersebut membuat risiko penurunan dominasi pasar PT Astra International Tbk (ASII) semakin besar, dengan pangsa pasar grup diperkirakan dapat turun di bawah 50 persen dalam waktu dekat.

Meski demikian, MNC Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dengan target harga Rp3.200 per unit.

Perseroan dinilai tetap memiliki fundamental kuat berkat arus kas solid dan pertumbuhan populasi kendaraan di Indonesia yang meningkat sekitar 10 juta unit dalam satu dekade terakhir.

Namun secara sektoral, MNC Sekuritas menurunkan rekomendasi sektor otomotif menjadi netral dari sebelumnya overweight.

Langkah itu mempertimbangkan daya beli masyarakat yang masih lemah, kenaikan biaya bahan baku akibat pelemahan rupiah, lonjakan harga plastik, serta potensi kenaikan suku bunga pasca kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE