Phapros (PEHA) Genjot Pertumbuhan Kinerja 2026
PER Trailing Twelve Months) atau PE TTM Phapros 4,97 kali dan PBV 0,48 kali berada di bawah rata-rata historis tiga tahun.
IDXChannel - PT Phapros Tbk (PEHA) mencatat posisi Price to Earning Ratio (PE) sudah di bawah 10 kali dan price to book value (PBV) di bawah 1 kali.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan perusahaan, laba bersih PEHA melonjak 541 peraen menjadi Rp15,29 miliar pada semester I-2026, ditopang pertumbuhan penjualan, perbaikan margin kotor, pemulihan pendapatan lain-lain, dan penurunan beban keuangan.
Segmen Over the Counter (OTC) atau obat yang bisa dibeli tanpa menggunakan resep dokter, menjadi pendorong pertumbuhan dengan kenaikan penjualan 16,3 persen, sedangkan Obat Generik Berlogo tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar. Margin kotor kedua segmen turut meningkat.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder MikirDuit Surya Rianto, mengatakan bahwa PER Trailing Twelve Months) atau PE TTM Phapros 4,97 kali dan PBV 0,48 kali berada di bawah rata-rata historis tiga tahun. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan penjualan di atas 20 persen pada tahun 2026.
Adapun tren pemulihan kinerja PEHA berlanjut hingga semester I-2026. Perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 541 persen menjadi Rp15,29 miliar. Beberapa faktor pendukung lonjakan laba bersih perseroan antara lain:
Pertama, PEHA mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 5,37 persen menjadi Rp482,85 miliar. Pendapatan PEHA didorong oleh segmen obat OTC yang tumbuh 16,3 persen menjadi Rp108,17 miliar.
"Sementara itu, segmen pendapatan yang berkontribusi paling besar ke PEHA, yakni segmen Obat Generik Berlogo juga mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 5,46 persen menjadi Rp261,62 miliar," ujarnya dikutip riset Kamis (22/10/2026).
Kedua, beban pokok penjualan PEHA tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan. Beban pokok penjualan PEHA hanya naik 0,38 persen menjadi Rp239 miliar dibandingkan dengan penjualan yang tumbuh 5,37 persen. Secara keseluruhan, gross profit margin PEHA naik menjadi 50,43 persen dibandingkan dengan 47,96 persen pada periode sama tahun sebelumnya.
Posisi gross profit margin yang makin besar itu didorong dari dua segmen utama, yakni OTC dan Obat Generik Berlogo.
"Gross profit margin segmen OTC naik menjadi 58,63 persen dibandingkan dengan 49,41 persen pada periode sama periode sebelumnya. Gross profit margin segmen obat generik berlogo ini juga naik menjadi 39,18 persen dibandingkan dengan 37,07 persen," tuturnya.
Ketiga, ada pemulihan pendapatan lain-lain secara bersih menjadi positif Rp250,03 juta dibandingkan dengan rugi Rp3,76 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Pemulihan pendapatan itu didorong dari dua pos, yakni adanya pemulihan piutang usaha senilai Rp277,39 juta dan pendapatan sewa senilai Rp5,3 miliar yang tidak tercatat di periode sebelumnya.
Dari pemulihan pos pendapatan lain-lain ini, laba usaha PEHA naik 24,22 persen menjadi Rp43,56 miliar.
Keempat, beban keuangan PEHA turun 7,56 persen menjadi Rp22,87 miliar dengan pendapatan keuangan naik 269 persen menjadi Rp1,25 miliar.
Prospek Kinerja 2026 PEHA
Dalam public expose, manajemen PEHA memberikan guidance kinerja penjualan tumbuh di atas 20 persen dengan laba bersih dua digit dan alokasi belanja modal Rp68,7 miliar.
"Dengan realisasi penjualan semester I/2026 senilai Rp482,85 miliar, PEHA membutuhkan tambahan pendapatan senilai Rp646,21 miliar untuk bisa mencapai target. Lalu, perseroan perlu menjaga margin keuntungan bersih sekitar 3 persen agar laba bersih bisa tumbuh 23 persen menjadi Rp33,87 miliar," ujar Surya Rianto, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, dengan prospek pertumbuhan laba bersih dua digit, valuasi PEHA saat ini sudah cukup terdiskon. PE Rasio secara twelve trailing month juga sudah di 4,97 kali. Jika dilihat secara PE Band dalam 3 tahun terakhir, valuasi PEHA sudah diskon di bawah rata-rata 15,7 kali.
"Dari segi Price to book value (PBV) juga terdiskon secara historis. PBV PEHA sebesar 0,48 kali sudah berada di bawah rata-rata PBV band 3 tahunnya yang sebesar 0,56 kali," kata dia.
(kunthi fahmar sandy)