MARKET NEWS

PMI Manufaktur RI Ekspansi, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.997 per USD

Anggie Ariesta 03/08/2026 15:58 WIB

Rupiah naik 25 poin atau sekitar 0,14 persen ke level Rp17.997 per USD.

PMI Manufaktur RI Ekspansi, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.997 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (3/8/2026). Rupiah naik 25 poin atau sekitar 0,14 persen ke level Rp17.997 per USD.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dari sentimen dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. 

"Namun, pemulihan sektor industri dinilai masih berlangsung secara bertahap karena kenaikan biaya bahan baku, pelemahan permintaan ekspor, dan kehati-hatian pelaku usaha dalam membeli bahan baku masih membatasi laju pertumbuhan," tulis Ibrahim dalam risetnya. 

Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index atau PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari posisi 46,9 pada Juni. Angka di atas level 50 menunjukkan kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III-2026. 

Perbaikan tersebut ditopang oleh kembalinya pertumbuhan volume produksi setelah empat bulan mengalami kontraksi. Namun, laju kenaikannya masih relatif tipis. 

S&P Global mencatat peningkatan produksi didorong oleh mulai membaiknya kondisi permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan. Namun, kenaikan harga bahan baku disebut masih menahan laju ekspansi. 

Secara bersamaan, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/MtM), setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,44 persen pada Mei 2026. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 2,88 persen secara tahunan. Lalu, secara tahun kalender terjadi inflasi 1,65 persen (year to date/YtD), penyebabnya adalah terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab deflasi Juli 2026 kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,89 persen dengan andil deflasi 0,26 persen. 

Adapun kelompok penahan deflasi terbesar adalah transportasi dengan inflasi sebesar 0,52 persen dan andil inflasi 0,06 persen. Adapun komponen yang menyumbang inflasi pada kelompok ini adalah bensin (0,08 persen), sepeda motor dan pelumas (0,01 persen).

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran AS terhadap Iran setelah Teheran dan beberapa negara Timur Tengah meminta waktu untuk melakukan negosiasi. 

"Trump mengatakan bahwa pembicaraan akan dimulai pada hari Senin dan ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz serta memastikan Iran meninggalkan ambisi nuklirnya," kata Ibrahim.

Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak sebesar lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan di Asia, sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan akan mempertahankan tingkat inflasi yang tinggi dan memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain itu, pasar masih fokus terhadap prospek The Fed dan data ketenagakerjaan AS, di mana para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat menyatakan perbedaan pendapat dan kembali menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi. 

"Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga segera diperlukan demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi," ujar Ibrahim.

Perhatian pasar tertuju pada rangkaian data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk data lowongan kerja JOLTS, laporan penggajian sektor swasta ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, serta laporan nonfarm payrolls guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah kebijakan bank sentral berikutnya.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.990-Rp18.040 per USD.

(NIA DEVIYANA)

SHARE