Prodia (PRDA) Raih Laba Bersih Rp207 Miliar pada 2025, Turun 23 Persen Imbas Ekspansi Jaringan
PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) resmi mengumumkan kinerja keuangan tahun 2025 dengan pendapatan mencapai Rp2,28 triliun.
IDXChannel - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) resmi mengumumkan kinerja keuangan tahun 2025. Pendapatan emiten laboratorium klinik tersebut masih solid meski secara bottom-line tertekan.
Prodia mencatat pendapatan sebesar Rp2,28 triliun sepanjang tahun lalu, naik 1,31 persen bila dibandingkan 2024 yang sebesar Rp2,25 triliun. Sementara laba bersih perseroan turun 23 persen dari Rp270 miliar menjadi Rp207 miliar.
Pendapatan Prodia pada tahun lalu didorong kontribusi signifikan dari segmen pemeriksaan rutin yang tetap menjadi tulang punggung bisnis. Selain itu, perseroan juga mencatat peningkatan permintaan permintaan esoterik yang memiliki nilai tambah tinggi.
“Pendapatan sebesar Rp2,28 triliun pada tahun buku 2025 mencerminkan efektivitas strategi kami dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, serta mengoptimalkan jaringan layanan," kata Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty melalui keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, beban pokok penjualan (COGS) mencapai Rp949 mliliar, meningkat 5,42 persen yang membuat laba kotor terkoreksi 1,4 persen menjadi Rp1,33 triliun. Kenaikan COGS tersebut seiring peningkatan ekspansi layanan di berbagai wilayah di samping akibat kenaikan harga bahan medis, reagen, dan investasi pada layanan serta teknologi diagnistik.
Laba usaha Prodia juga tercatat sebesar Rp225 miliar dan laba sebelum pajak Rp264 miliar. Dengan beban pajak sebesar Rp58 miliar, perseroan membukukan laba bersih Rp207 miliar.
Dari sisi neraca, aset Prodia hingga 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp2,7 triliun dengan rincian liabilitas Rp302 miliar dan ekuitas Rp2,39 triliun. Kondisi ini mencerminkan tingkat leverage yang rendah dan fleksibilitas keuangan yang tinggi.
Sementara itu, arus kas bersih yang diperoleh dari akvtivitas operasi mencapai Rp424 miliar. Adapun aktivitas investasi Rp55 miliar dengan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp165 miliar. Belanja modal ini difokuskan pada pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.
Dewi menambahkan, pada 2026, perseroan akan mengembangkan precision medicine melalui ekspansi specialty clinic di bidang stem cell, autoimmune, dan longevity, serta penguatan ekosistem digital. Di saat yang sama, Prodia memprioritaskan pengembangan pemeriksaan esoterik dan diagnostik klinis kompleks melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC).
Sementara itu, Direktur Keuangan Prodia, Liana Kuswandi menilai, kinerja keuangan yang solid menjadi pondasi utama dalam mendukung agenda ekspansi Perseroan. Sepanjang 2025, Prodi menjaga profitabilitas dan arus kas tetap solid melalui pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan serta melakukan pengelolaan biaya yang produktif, didukung struktur permodalan yang tetap sehat.
"Memasuki tahun 2026, kami akan fokus meningkatkan kualitas pendapatan melalui bauran tes bernilai tinggi seperti tes-tes esoterik dan layanan diagnostik klinis yang semakin komprehensif. Di sisi operasional, kami juga akan mengoptimalkan utilisasi jaringan dan klinik untuk mendorong pertumbuhan volume sekaligus menjaga kualitas layanan dan keberlanjutan margin," katanya.
(Rahmat Fiansyah)