MARKET NEWS

Prospek Positif Rapor Emiten CPO di Tengah Risiko Pungutan Ekspor

TIM RISET IDX CHANNEL 27/01/2026 07:12 WIB

Kinerja emiten perkebunan dan produsen minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan masih solid pada kuartal IV-2025 (4Q25).

Prospek Positif Rapor Emiten CPO di Tengah Risiko Pungutan Ekspor. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Kinerja emiten perkebunan dan produsen minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan masih solid pada kuartal IV-2025 (4Q25), meski ruang tekanan dari sisi kebijakan kian terbuka.

Riset Indo Premier Sekuritas yang terbit pada 20 Januari 2026 memperkirakan laba bersih inti (core net profit/NP) sektor CPO pada 4Q25 berpotensi naik sekitar 9 persen secara kuartalan (qoq) menjadi Rp2,5 triliun, di atas konsensus pasar. Peningkatan ini terjadi meski harga CPO domestik cenderung normalisasi.

Pada 4Q25, harga CPO berbasis rupiah tercatat turun tipis 1 persen qoq ke kisaran Rp14,3 juta per ton.

Pelemahan ini dipicu oleh tingginya level persediaan global dan permintaan yang lebih lemah dari perkiraan, terutama dari India dan China.

Sepanjang Desember 2025, stok minyak sawit Malaysia melonjak ke 3,8 juta ton, tertinggi sejak 2021, meski produksi turun dan ekspor meningkat.

Namun secara tahunan, rata-rata harga CPO sepanjang 2025 tetap naik 8 persen menjadi Rp14,3 juta per ton. Kenaikan ini ditopang oleh pelemahan rupiah, sehingga masih sejalan dengan estimasi Indo Premier untuk tahun buku 2025.

Dari sisi emiten, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba terkuat pada 4Q25, naik sekitar 25 persen qoq, didorong oleh penurunan beban utang.

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menyusul dengan kenaikan sekitar 22 persen qoq, didukung realisasi pengiriman tertunda dan mekanisme harga dengan jeda dua bulan.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) diperkirakan tumbuh 6 persen qoq berkat penurunan biaya persediaan.

Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diperkirakan turun tipis 2 persen qoq akibat produksi yang lebih rendah dan penggunaan mekanisme harga spot.

Secara keseluruhan, laba sektor CPO sepanjang 2025 diproyeksikan tumbuh 35 persen secara tahunan menjadi Rp9,4 triliun. Indo Premier menilai hasil emiten secara umum akan sejalan dengan estimasi internal, bahkan berpotensi melampaui konsensus pasar, terutama untuk TAPG dan LSIP.

Meski prospek jangka pendek masih konstruktif, Indo Premier menyoroti risiko baru dari sisi kebijakan. Penundaan implementasi biodiesel B50 hingga setelah paruh kedua 2026 dinilai masih sesuai ekspektasi.

Namun, rencana kenaikan pungutan ekspor (export levy) CPO menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 10 persen, yang diperkirakan berlaku mulai 1 Maret 2026, berpotensi menekan harga FOB agar tetap kompetitif di pasar global.

Di sisi lain, terdapat potensi penopang harga CPO ke depan. Pasokan Malaysia diperkirakan menurun karena memasuki fase “resting year”, sementara produksi Indonesia bisa terganggu oleh rencana pemerintah menyita tambahan 4–5 juta hektare lahan ilegal pada 2026.

Dengan kombinasi peluang dan risiko tersebut, Indo Premier menyatakan tengah meninjau kembali peringkat (rating) sektor CPO. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE