MARKET NEWS

Prospek Saham Astra (ASII) Dinilai Masih Menarik, Meski Dihantam Aksi Jual Asing

TIM RISET IDX CHANNEL 28/05/2026 10:16 WIB

Saham PT Astra International Tbk (ASII) memang tengah berada dalam tekanan setelah anjlok 8,48 persen ke level Rp5.125 per unit pada perdagangan Selasa (26/5).

Prospek Saham Astra (ASII) Dinilai Masih Menarik, Meski Dihantam Aksi Jual Asing. (Foto: Astra)

IDXChannel - Saham PT Astra International Tbk (ASII) memang tengah berada dalam tekanan setelah anjlok 8,48 persen ke level Rp5.125 per unit pada perdagangan Selasa (26/5/2026) lalu.

Namun, sejumlah analis menilai prospek saham konglomerasi tersebut masih menarik seiring langkah strategis perseroan untuk meningkatkan imbal hasil pemegang saham atau total shareholder return (TSR).

Tekanan pada saham ASII dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipicu aksi jual investor asing di pasar domestik.

Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat membukukan jual bersih Rp334,08 miliar di pasar reguler. Adapun dalam sebulan terakhir, net sell asing mencapai Rp490,91 miliar.

Di tengah tekanan tersebut, Astra baru saja mengumumkan hasil strategic review yang dijalankan sejak semester II-2025.

Perseroan menegaskan tetap fokus pada tiga bisnis utama yang selama ini menjadi penopang sekitar 90 persen laba, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan.

Selain mempertegas fokus bisnis inti, ASII juga menyiapkan program buyback saham hingga Rp8 triliun dalam 12 bulan ke depan.

Perseroan tetap mempertahankan kebijakan dividen dengan payout ratio sekitar 45-50 persen serta menerapkan pendekatan akuisisi yang lebih disiplin.

Analis Stockbit Sekuritas Andrian Tanuwijaya menilai strategic review tersebut memang sebagian besar merupakan formalisasi strategi yang sebelumnya sudah dijalankan manajemen.

Namun, menurut dia, terdapat sejumlah poin baru yang dinilai positif oleh pasar, seperti target TSR low-teens CAGR dalam lima tahun, penerapan share-based remuneration bagi direksi, hingga disiplin alokasi modal.

Menurut Andrian, buyback Rp8 triliun cukup meaningful untuk menopang pergerakan saham ASII, meski dampaknya tetap bergantung pada kecepatan realisasi pembelian kembali saham tersebut.

Target TSR low-teens CAGR, kata Andrian, menjadi benchmark baru bagi investor untuk menilai kualitas eksekusi manajemen ke depan.

Pandangan positif juga datang dari DBS Group Research. Dalam ulasannya, DBS menilai nilai buyback Rp8 triliun menjadi kejutan positif karena setara sekitar 3,5 persen kapitalisasi pasar ASII saat ini.

DBS juga menilai fokus Astra pada tiga bisnis utama memberikan arah strategi yang lebih jelas. Ke depan, aktivitas merger dan akuisisi diperkirakan akan difokuskan untuk memperkuat ekosistem otomotif, bisnis suku cadang, hingga layanan terkait sektor pertambangan.

DBS mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ASII dengan target harga Rp7.500 per saham.

Sementara itu, analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla menilai strategic review ASII menandai perubahan penting dalam arah strategi perusahaan, dari sebelumnya berorientasi ekspansi menjadi lebih fokus pada disiplin alokasi modal dan peningkatan imbal hasil pemegang saham.

Menurut Raja, pasar saat ini memang masih menyoroti program buyback, dividen, dan potensi merger dan akuisisi. Namun, Bahana melihat perubahan pola pikir manajemen berpotensi mendorong re-rating valuasi saham ASII dalam jangka panjang.

Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp7.300 per saham.

Namun, tidak semua analis langsung agresif terhadap prospek saham ASII. Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian justru mempertahankan rekomendasi hold dengan target harga Rp5.900 per saham dalam riset tertanggal 26 Mei 2026.

Menurut Christofer, Sucor baru akan menjadi lebih konstruktif terhadap ASII apabila kontribusi laba dari operasi tambang emas Martabe mulai signifikan, ketidakpastian regulasi komoditas membaik, serta insentif kendaraan hybrid roda empat mampu mengembalikan daya saing otomotif domestik terhadap kendaraan listrik (EV).

Sucor menilai pemulihan permintaan otomotif nasional masih menjadi faktor penting bagi kinerja Astra, mengingat segmen otomotif tetap menjadi salah satu penopang utama laba perseroan. (Aldo Fernando)

 

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE