MARKET NEWS

Prospek UNTR Dibayangi Impairment, Analis Pangkas Proyeksi Laba

TIM RISET IDX CHANNEL 06/08/2026 11:01 WIB

Maybank Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi laba PT United Tractors Tbk (UNTR) untuk 2026 dan 2027 setelah menilai kinerja perseroan akan tertekan oleh rugi.

Prospek UNTR Dibayangi Impairment, Analis Pangkas Proyeksi Laba. (Foto: United Tractors)

IDXChannel – Maybank Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi laba PT United Tractors Tbk (UNTR) untuk 2026 dan 2027 setelah menilai kinerja perseroan akan tertekan oleh rugi penurunan nilai aset (impairment) serta prospek operasional yang melemah di sejumlah segmen bisnis.

Analis Maybank memangkas proyeksi laba bersih inti setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (core net profit after tax and minority interests) UNTR untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 52,3 persen dan 49,3 persen.

Revisi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan impairment pada bisnis panas bumi dan pertambangan nikel, serta asumsi operasional yang lebih lemah di seluruh segmen usaha.

Dalam laporan risetnya, Maybank menyebut kinerja semester I-2026 UNTR terbebani sekitar Rp2,76 triliun impairment yang diakui pada kuartal II-2026, terutama terkait eksposur Perseroan di sektor panas bumi.

Seiring dengan penurunan proyeksi laba tersebut, Maybank juga menurunkan rekomendasi saham UNTR menjadi tahan (hold) dari sebelumnya beli (buy), dengan target harga direvisi menjadi Rp25.600 per unit dari sebelumnya Rp31.500 per unit.

Pada perdagangan Kamis (6/8/2026), hingga pukul 10.50 WIB, saham UNTR melemah 0,21 persen ke Rp23.750 per unit. Sepanjang 2026 (YtD), saham Grup Astra ini merosot 19,49 persen.

Laba Bersih Semester I-2026 Merosot

Dalam siaran pers perusahaan, UNTR membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp58,3 triliun pada semester I-2026, turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp68,5 triliun.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya penjualan emas di PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi akibat alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Penurunan tersebut sebagian tertahan oleh meningkatnya pendapatan dari bisnis kontraktor pertambangan yang didukung penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Laba bersih yang tidak memperhitungkan non-recurring items (pos non-berulang) turun 48 persen menjadi Rp4,3 triliun dari Rp8,2 triliun pada semester I-2025.

Penurunan ini terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources yang sempat menghentikan operasionalnya. Perseroan menyebut operasional tambang tersebut telah kembali berjalan pada kuartal II-2026.

Setelah memperhitungkan pos non-berulang, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 88 persen menjadi Rp956 miliar, dari Rp8,13 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun, terutama berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 Perseroan membukukan utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen, berbalik dari posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun pada akhir 2025.

Perubahan tersebut terutama mencerminkan dampak akuisisi perusahaan tambang emas serta pelaksanaan program pembelian kembali saham (buyback). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE