Provident (PALM) Sebut Gejolak Global dan Regulasi Jadi Tantangan Investasi 2026
Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar serta memengaruhi arah pengambilan keputusan investasi.
IDXChannel - PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) menyatakan, gejolak geopolitik global dan perubahan regulasi akan menjadi tantangan terbesar investasi pada 2026.
Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar serta memengaruhi arah pengambilan keputusan investasi.
Direktur PALM, Ellen Kartika mengatakan, kondisi ekonomi global yang semakin sulit diprediksi menuntut perusahaan untuk lebih cermat dalam memantau berbagai perkembangan, baik di tingkat internasional maupun domestik.
"Menurut kami tantangan terbesarnya adalah gejolak geopolitik maupun perubahan regulasi yang ada. Jadi itu membuat market menjadi lebih volatile," ujar Ellen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, ketidakpastian yang bersumber dari faktor eksternal dapat memengaruhi sentimen pasar dan kinerja investasi. Karena itu, Perseroan terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan yang berpotensi berdampak terhadap portofolio investasinya.
Presiden Direktur PALM Tri Boewono juga menyoroti berbagai dinamika global yang masih membayangi prospek perekonomian dunia. Konflik geopolitik dan berbagai faktor eksternal lainnya dinilai dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kondisi global yang sarat ketidakpastian mengharuskan perusahaan lebih berhati-hati dalam menyusun strategi investasi ke depan. Selain perkembangan geopolitik, perubahan kebijakan dan regulasi juga menjadi faktor yang terus dicermati Perseroan.
"Kalau secara global, Bapak-Ibu juga sangat paham, kita semua khawatir dengan apa yang terjadi di dunia, baik perang maupun faktor-faktor lainnya. Jadi ada pengaruh dari luar Indonesia yang juga dapat berdampak terhadap kondisi di Indonesia," kata Tri.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, PALM membukukan kinerja yang solid sepanjang 2025. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp1,85 triliun, melonjak 193 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejalan dengan peningkatan kinerja tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp50 miliar atau setara 2,97 persen dari laba bersih Perseroan.
Pertumbuhan laba terutama ditopang oleh keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya yang mencapai Rp2,23 triliun. Sementara itu, total aset PALM meningkat 17 persen menjadi Rp9,19 triliun pada 2025, dari Rp7,87 triliun pada tahun sebelumnya.
Memasuki 2026, kinerja Perseroan masih menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Pada kuartal I-2026, PALM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,32 triliun, melonjak 263,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya yang meningkat 287,2 persen menjadi Rp2,44 triliun. Total aset Perseroan juga tumbuh 25,6 persen menjadi Rp11,55 triliun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp9,19 triliun.
(DESI ANGRIANI)