MARKET NEWS

Proyek Bauksit dan Alumina Rusal di Indonesia Masih Dini, Dampak ke Saham Dinilai Terbatas

TIM RISET IDX CHANNEL 01/10/2026 09:55 WIB

Rencana produsen aluminium asal Rusia, Rusal, membangun fasilitas bauksit dan alumina di Indonesia dinilai belum banyak memberi dampak langsung.

Proyek Bauksit dan Alumina Rusal di Indonesia Masih Dini, Dampak ke Saham Dinilai Terbatas. (Foto: iStock)

IDXChannel - Rencana produsen aluminium asal Rusia, Rusal, membangun fasilitas bauksit dan alumina di Indonesia dinilai belum banyak memberi dampak langsung terhadap saham-saham tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Proyek tersebut masih berada pada tahap awal, sementara mitra, kebutuhan belanja modal, hingga jadwal pembangunan belum ditetapkan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Fauzan Luthfi Djamal mengatakan, secara strategis Rusal memiliki alasan kuat untuk mengembangkan kapasitas bauksit dan alumina di Indonesia.

Kenaikan biaya bahan baku di Rusia serta potensi pembatasan pasokan alumina dari Eropa membuat Indonesia menjadi salah satu opsi yang menarik bagi perusahaan tersebut.

“Indonesia memiliki basis sumber daya bauksit yang besar, lokasi di kawasan Pasifik, serta kebijakan yang mendukung investasi hilirisasi,” tulis Fauzan dalam riset bertajuk Rusal: Still Finding Its Footing yang diterbitkan 30 September 2026.

Namun, menurut dia, proyek tersebut masih terlalu dini untuk memberikan dampak berarti bagi emiten domestik.

Hingga kini belum ada perusahaan tercatat yang dipastikan terlibat dalam proyek Rusal, sementara izin proyek juga belum diterbitkan.

Rencana tersebut dikonfirmasi Rusal pada awal September 2026 setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut perusahaan tersebut sebagai mitra proyek.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kemudian menyatakan proyek akan berhenti pada pengolahan hingga alumina dan proses perizinannya mendekati tahap final.

Meski demikian, hingga 21 September 2026, izin proyek tersebut disebut belum diterbitkan.

Fauzan menilai biaya pembangunan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan keekonomian proyek.

Dengan asumsi belanja modal (capex) sebesar USD1.100 per ton dan harga alumina spot USD353 per ton, kilang terintegrasi berkapasitas 1 juta ton per tahun hanya menghasilkan tingkat pengembalian sekitar 5,5 persen.

Sebaliknya, jika biaya pembangunan dapat ditekan ke kisaran USD500-710 per ton seperti yang tersirat dari proyek Tianshan di Indonesia, tingkat pengembalian dapat meningkat menjadi 10,8-12,9 persen.

Dengan biaya pembangunan USD325 per ton, tingkat pengembalian diperkirakan berada di kisaran 7,7-9,5 persen.

“Hal ini membuat biaya konstruksi menjadi penentu utama keekonomian proyek,” ujar Fauzan.

Tantangan proyek tidak hanya berasal dari biaya pembangunan.

Pengembangan industri alumina Indonesia juga masih menghadapi persoalan kuota produksi, pendanaan, akses bijih, dan eksekusi proyek.

Hingga akhir Mei 2026, baru sekitar sepertiga kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bauksit 2026 yang telah disetujui.

Selain itu, sekitar 90 persen cadangan bauksit berada di bawah konsesi perkebunan, yang berpotensi memperpanjang waktu untuk memperoleh akses terhadap bijih.

Di sisi hilirisasi, masih terdapat delapan kilang alumina di Indonesia yang belum dikembangkan, dengan kebutuhan pendanaan diperkirakan mencapai sekitar USD1,2 miliar untuk masing-masing proyek.

Dalam asumsi dasar Mirae Asset, proyek kilang tersebut hanya mampu menopang sekitar 31 persen utang dengan tingkat bunga 9 persen.

Penggunaan kontraktor asal China berpotensi menekan kebutuhan belanja modal awal, meski dampaknya terhadap keekonomian operasional masih perlu diperhitungkan.

Di sisi lain, potensi larangan Uni Eropa terhadap alumina Rusia dapat memperkuat alasan strategis Rusal untuk membangun basis produksi di Indonesia.

Parlemen Eropa pada Juli telah melakukan pemungutan suara terkait larangan yang berpotensi memengaruhi sekitar 540.497 ton pasokan alumina per tahun dari kilang Rusal di Irlandia.

Namun, aturan tersebut masih memerlukan proses persetujuan lebih lanjut. Fauzan juga mencatat Rusal sebelumnya pernah menandatangani nota kesepahaman terkait proyek di Indonesia pada 2007 dan 2014, tetapi keduanya tidak berlanjut ke tahap pengembangan.

Dari sisi saham, eksposur emiten BEI terhadap rencana Rusal juga masih tidak langsung.

Salah satu emiten yang memiliki eksposur terhadap tema aluminium adalah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), melalui kepemilikan 65 persen di PT Kalimantan Aluminium Industry yang mengoperasikan smelter aluminium berkapasitas 500.000 ton per tahun.

Dengan harga aluminium LME USD3.290 per ton, target biaya tunai ADMR sebesar USD1.800-2.000 per ton menyiratkan margin sekitar USD1.300-1.500 per ton. Dukungan tambahan juga berpotensi berasal dari kuota alumina domestik.

Sementara itu, potensi keterlibatan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dalam proyek Rusal dinilai belum akan mengubah profil pendapatannya secara signifikan.

Tambahan kontribusi diperkirakan hanya sekitar 1-2 persen terhadap pendapatan ANTM, mengingat emas masih menyumbang sekitar 81 persen terhadap pendapatan perseroan.

Lebih lanjut, bagi PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), bertambahnya pasokan alumina justru berpotensi menekan laba usaha patungannya melalui penurunan harga alumina. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE