Proyeksi Harga Emas Sepekan, Analis Ramal Koreksi Berlanjut
Harga emas dunia memasuki pekan pertama November 2026 dengan tekanan yang masih kuat.
IDXChannel – Harga emas dunia memasuki pekan pertama November 2026 dengan tekanan yang masih kuat.
Setelah jatuh lebih dari 3 persen dalam sepekan terakhir dan menembus level psikologis USD3.900 per troy ons, mayoritas analis kini memperkirakan harga emas masih berpotensi terkoreksi pada pekan ini.
Mengutip Kitco News, dalam survei mingguan yang melibatkan 16 analis, hanya satu analis atau 6 persen yang memperkirakan harga emas naik dalam sepekan ke depan.
Sebanyak 10 analis atau 63 persen memproyeksikan harga emas kembali turun, sedangkan lima analis atau 31 persen memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum dapat menentukan arahnya.
Proyeksi tersebut muncul setelah harga emas spot pada perdagangan Jumat (30/10/2026) anjlok 3,60 persen menjadi USD3.875,64 per troy ons.
Level tersebut merupakan yang terendah sejak Oktober 2025. Sepanjang pekan lalu, harga emas telah terkoreksi 3,01 persen.
Tekanan juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak jatuh 5,78 persen menjadi USD49,13 per troy ons, sekaligus menembus level USD50 untuk pertama kalinya dalam 11 bulan.
Sementara itu, harga paladium kembali berada di bawah USD1.000 per troy ons.
Analis Commerzbank mengatakan, seperti dikutip Reuters, aksi jual tajam saham teknologi pada Jumat pekan lalu kemungkinan turut memicu penjualan paksa pada aset safe haven seperti emas dan mendorong margin call.
Meski demikian, mereka masih memperkirakan harga logam mulia dapat kembali pulih.
Analis Mulai Bearish
Prospek jangka pendek emas memburuk setelah harga menembus level USD4.000 per troy ons. Sejumlah analis menilai penurunan tersebut telah mengubah gambaran teknikal emas untuk pekan ini.
Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mengatakan kilau emas mulai meredup setelah harganya turun jauh dari level sekitar USD4.700 pada akhir Agustus.
Menurutnya, salah satu pengecualian yang masih dapat membuka ruang bagi pemulihan adalah kondisi teknikal emas yang kini berada di bawah lower Bollinger Band, yakni lebih dari dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (MA-20).
Sementara itu, Adam Button, Head of Currency Strategy di investingLive, memperkirakan risiko geopolitik dapat meningkatkan volatilitas harga emas.
Pemilu sela Amerika Serikat dan potensi berlanjutnya perang Iran menjadi dua faktor yang perlu diperhatikan investor pekan ini.
“Saya khawatir Trump dapat mengambil langkah yang memicu eskalasi, sehingga mendorong perdagangan risk-off yang tajam,” ujar Button.
Chief Market Strategist SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, juga bersikap bearish terhadap emas untuk pekan ini. Menurutnya, penurunan di bawah USD4.000 merupakan sinyal teknikal yang signifikan.
Daniel Pavilonis, Senior Commodities Broker StoneX Group, menilai emas dan perak yang telah menembus sejumlah level support penting berpotensi memasuki periode koreksi yang lebih panjang dan dalam.
Menurut Pavilonis, emas membutuhkan sinyal pelonggaran kebijakan moneter untuk kembali melanjutkan tren kenaikan yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Investor Ritel Masih Lebih Optimistis
Meski mayoritas analis profesional mulai bearish, investor ritel masih menunjukkan pandangan yang relatif lebih optimistis.
Dalam jajak pendapat Kitco terhadap 184 investor, sebanyak 98 responden atau 53 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini.
Sebanyak 56 investor atau 30 persen memprediksi harga kembali turun, sementara 30 responden atau 16 persen memperkirakan harga bergerak sideways.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat penurunan tajam emas sebagai koreksi setelah reli panjang, bukan sebagai awal dari perubahan tren yang lebih besar.
Namun, secara fundamental, emas masih menghadapi sejumlah tekanan. Harga emas telah turun sekitar 30 persen dari rekor tertinggi USD5.595 per troy ons yang dicapai pada Januari 2026.
Pelemahan juga terjadi ketika ekspektasi pasar terhadap suku bunga masih cenderung lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Di sisi lain, permintaan emas di Asia masih relatif lemah.
Data Ekonomi dan Risiko Geopolitik Jadi Penentu
Pergerakan emas pekan ini akan menghadapi sejumlah katalis penting dari Negeri Paman Sam. Pasar akan memulai pekan dengan rilis ISM Manufacturing PMI Oktober pada Senin.
Selanjutnya, data JOLTS job openings akan dirilis pada Selasa, disusul data ketenagakerjaan ADP dan ISM Services PMI pada Rabu.
Pada Kamis, perhatian investor akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank of England dan data klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat.
Pekan akan ditutup dengan rilis data nonfarm payrolls (NFP) AS untuk Oktober pada Jumat, yang menjadi salah satu indikator utama arah pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Data tersebut akan diikuti publikasi survei awal sentimen konsumen University of Michigan.
Di luar data ekonomi, pemilu sela AS dan perkembangan konflik Iran juga berpotensi meningkatkan volatilitas.
Eskalasi geopolitik dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, tetapi pada saat yang sama aksi jual paksa dan kebutuhan likuiditas dapat menekan emas seperti yang terjadi pada perdagangan Jumat. (Aldo Fernando)