MARKET NEWS

Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini, Brent Berpeluang Uji Level USD65

TIM RISET IDX CHANNEL 29/06/2026 06:42 WIB

Harga minyak mentah diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan pekan ini setelah mencatat penurunan tajam sepanjang pekan lalu.

Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini, Brent Berpeluang Uji Level USD65. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan pekan ini setelah mencatat penurunan tajam sepanjang pekan lalu.

Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan harga minyak, meski risiko geopolitik masih membayangi pasar.

Harga minyak mentah Brent ditutup melemah 4,34 persen menjadi USD71,99 per barel pada Jumat (26/6/2026) pekan lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun 3,74 persen menjadi USD69,23 per barel.

Secara mingguan, harga Brent merosot 10,86 persen, sedangkan WTI turun 9,62 persen.

Pelemahan tersebut terjadi setelah kapal-kapal tanker kembali melanjutkan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi global.

Sebelumnya, pasar sempat mencemaskan risiko terhadap aliran minyak setelah sebuah kapal kargo mengalami serangan di dekat Oman.

Namun, kekhawatiran tersebut mulai berkurang setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

"Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan tetap mengalir melalui Selat Hormuz," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.

Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Tanda-tanda bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran menghadapi tekanan kembali muncul setelah kedua negara dilaporkan melakukan aksi saling serang pada akhir pekan.

Kondisi tersebut kembali membuka peluang meningkatnya volatilitas harga minyak, terutama apabila konflik meluas dan mengancam jalur perdagangan energi utama.

Pemulihan ketegangan geopolitik dapat menjadi faktor pendorong harga minyak, terutama ketika persediaan minyak global mulai menunjukkan tren penurunan.

Di sisi lain, terdapat indikasi bahwa Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan konflik berkembang menjadi perang terbuka.

Laporan media menyebutkan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dan politik menjelang pemilu sela AS dapat menjadi faktor yang mendorong upaya meredakan ketegangan.

Dari sisi teknikal, analis pasar melihat tren harga minyak masih cenderung bearish.

Harga Brent telah turun dari level tertinggi tahun berjalan di USD119,75 per barel menuju sekitar USD73,60 per barel.

Harga Brent juga telah menembus level retracement Fibonacci 61,8 persen, sementara indikator teknikal menunjukkan sinyal pelemahan.

Pergerakan rata-rata 50 hari (MA-50) dan 100 hari (MA-100) telah membentuk pola bearish crossover, sedangkan indikator Relative Strength Index (RSI) dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih bergerak turun.

Dengan kondisi tersebut, tekanan penurunan masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Brent diperkirakan dapat menguji level support berikutnya di sekitar USD65 per barel.

Namun, prospek bearish tersebut dapat berubah apabila harga mampu kembali menembus area resistance USD80 per barel. (Aldo Fernando)

SHARE