Radana Finance (HDFA) Bidik Pembiayaan Rp4,15 Triliun di 2026, Ini Strateginya
Adapun hingga semester I-2026, HDFA membukukan kinerja operasional yang ekspansif dengan menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp1,4 triliun.
IDXChannel - Emiten pembiayaan PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) menargetkan penyaluran pembiayaan baru Rp4,15 triliun di 2026. Adapun hingga semester I-2026, HDFA membukukan kinerja operasional yang ekspansif dengan menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp1,4 triliun.
Perseroan mengoptimalkan diversifikasi sumber pembiayaan pada sektor-sektor produktif bernilai tambah tinggi, khususnya rantai pasok industri ekstraktif seperti pertambangan nikel, perkebunan kelapa sawit, dan sektor logistik komoditas.
Akselerasi penyaluran dana tersebut diimbangi dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan di tengah peningkatan proyeksi produksi komoditas nasional.
Langkah ekspansi selektif ini berhasil menekan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) sekaligus memperkuat posisi piutang pembiayaan perseroan.
"Pada semester I-2026, kami membukukan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp1,4 triliun yang ditopang anjak piutang (factoring) Rp0,9 triliun, pembiayaan berbasis aset (ABF) Rp0,54 triliun, dan modal usaha Rp0,14 triliun untuk mengejar target tahunan Rp4,15 triliun. Piutang pembiayaan mencapai Rp2,6 triliun dengan NPF yang membaik ke level 2,62 persen seiring terbukanya peluang di sektor komoditas nikel, sawit, dan logistik," ujar Direktur Utama Radana Finance Lim Eng Khim dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Sebagai perusahaan pembiayaan independen tanpa ikatan afiliasi merek maupun kelompok perbankan tertentu, perseroan memiliki fleksibilitas tinggi dalam menjalin kemitraan dengan berbagai agen pemegang merek alat berat dan truk niaga.
Jaringan mitra terkemuka seperti Komatsu, Volvo, Isuzu, hingga Sinotruk dimanfaatkan secara optimal untuk merespons kebutuhan alat produksi di sektor tambang dan perkebunan.
"Posisi sebagai leasing independen memberi kami ruang gerak luas untuk bermitra dengan berbagai prinsipal alat berat dan truk niaga terkemuka, seperti Komatsu, Volvo, hingga Sinotruk. Hal ini menopang penyaluran pembiayaan alat kerja di sektor ekstraktif setelah pada 2025 kami mencatatkan total pembiayaan Rp5 triliun dengan piutang Rp3 triliun," ujar Khim.
Di tengah kenaikan NPF industri multifinance nasional ke level 3,01 persen dan pergeseran tren pasar yang lebih membutuhkan likuiditas modal kerja, perseroan memperketat proses underwriting dan pemantauan aset secara ketat.
Disiplin mitigasi risiko tersebut sukses membalikkan kinerja profitabilitas perseroan menjadi laba bersih setelah sebelumnya menanggung beban pencadangan.
"Melihat kenaikan NPF industri, kami mengetatkan mitigasi risiko sehingga berhasil mencatatkan laba bersih Rp1,53 miliar dari pendapatan Rp200,4 miliar pada semester I-2026, berbalik dari kerugian Rp82 miliar pada akhir 2025 akibat pembentukan pencadangan. Posisi keuangan perseroan per Juni 2026 tetap solid dengan total aset Rp2,99 triliun, liabilitas Rp2,5 triliun, dan ekuitas Rp493 miliar," tuturnya.
Memasuki semester kedua 2026, perseroan mematangkan rencana kerja strategis yang berfokus pada penguatan produk pembiayaan investasi, perluasan kemitraan dealer, serta penajaman hubungan dengan nasabah inti.
Pendekatan penjualan silang kepada debitur eksisting terus dipacu bersamaan dengan diversifikasi sumber pendanaan perbankan yang efisien.
"Fokus kami di 2026 adalah memperkuat produk pembiayaan investasi dan modal kerja, memperluas kemitraan dealer, serta menawarkan fasilitas cross-sell kepada debitur inti. Kami juga memperluas akses pendanaan dari perbankan domestik dan internasional dengan tingkat bunga yang kompetitif demi menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," kata Khim.
(NIA DEVIYANA)