Rencana Pemerintah Jadi Katalis Saham Tekstil, Simak Kondisi ARGO-BELL Cs
Saham emiten tekstil melesat pada perdagangan Kamis (16/1/2026), seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap langkah pemerintah via Danantara.
IDXChannel – Saham emiten tekstil melesat pada perdagangan Kamis (15/1/2026), seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap langkah Danantara yang tengah mengkaji secara serius pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tersebut.
Sebagaimana diketahui, industri tekstil dalam negeri tengah berada di bawah tekanan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) ditutup melonjak hingga auto rejection atas (ARA) 35 persen ke level Rp190 per unit. Nilai transaksi harian mencapai Rp36,5 miliar.
Di bawah ESTI, saham PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) terbang 34,15 persen menjadi Rp110 per unit, dengan nilai transaksi Rp69,2 miliar.
Kemudian, saham PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) mendaki 24,73 persen ke Rp3.480 per unit, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) 23,64 persen, PT Trisula Internasional Tbk (TRIS) 16,67 persen.
Nama-nama lainnya, saham PT Argo Pantes Tbk (ARGO) meningkat 13,55 persen, PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) 10,00 persen, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) 8,93 persen, PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) 8,89 persen, PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) 5,74 persen, RICY 2,63 persen, dan UCID 1,38 persen.
Rentannya Emiten Tekstil
Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam jurnal InFestasi Vol. 21(1) Juni 2025, kondisi keuangan emiten tekstil di BEI sepanjang periode 2020-2024 masih menunjukkan tingkat kerentanan yang tinggi.
Menggunakan model Altman Z-Score terhadap delapan perusahaan tekstil, riset ini menemukan bahwa separuh dari sampel berada di zona distress, yang mencerminkan tekanan keuangan serius dan risiko keberlanjutan usaha yang besar.
Emiten yang masuk kategori ini adalah PT Argo Pantes Tbk (ARGO), PT Panasia Indo Resources Tbk (delisting), PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV), dan PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX).
Tekanan yang berkepanjangan di zona distress juga terbukti berdampak nyata, sebagaimana tercermin pada PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang berada dalam distress zone selama empat tahun berturut-turut sebelum akhirnya dinyatakan pailit pada 2025. Temuan ini menguatkan fungsi Altman Z-Score sebagai indikator dini atas potensi kegagalan finansial di industri tekstil.
Di sisi lain, perbaikan terbatas mulai terlihat pada PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) yang berhasil keluar dari distress zone dan naik ke grey zone, menandakan adanya pemulihan meski kondisi keuangannya masih rapuh.
Sementara itu, PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) tercatat bertahan di grey zone selama lima tahun berturut-turut, mencerminkan stabilitas yang belum cukup kuat untuk dikategorikan aman.
Satu-satunya emiten dengan profil keuangan solid adalah PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO), yang secara konsisten berada di safe zone dengan nilai Z-Score yang menunjukkan stabilitas finansial yang kuat.
Secara keseluruhan, riset ini menegaskan bahwa industri tekstil nasional masih berada dalam kondisi rentan, dengan mayoritas emiten menghadapi tekanan keuangan yang signifikan.
Oleh karena itu, penelitian ini menekankan urgensi perbaikan manajemen keuangan di tingkat perusahaan serta perlunya dukungan kebijakan industri yang lebih kuat untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing sektor tekstil di tengah meningkatnya persaingan pasar.
Tekanan Industri Tekstil
Industri tekstil selama ini menjadi sektor strategis yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia, khususnya sandang, melalui aktivitas pengolahan serat menjadi benang, kain, dan berbagai produk tekstil turunan.
Selain fungsi sosialnya, sektor ini juga memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip dari jurnal InFestasi, pada 2024 industri tekstil menyumbang sekitar 4,26 persen terhadap PDB sektor manufaktur dan menyerap sekitar 957 ribu tenaga kerja.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir industri tekstil nasional menghadapi tekanan serius, terutama akibat meningkatnya impor produk tekstil, termasuk maraknya pakaian bekas impor atau thrifting.
Kondisi ini mendorong pergeseran preferensi konsumen ke produk impor yang lebih murah dan beragam, sehingga melemahkan daya saing produk tekstil domestik.
Akibatnya, banyak perusahaan tekstil dalam negeri mengalami penurunan pendapatan.
Rencana Pemerintah
Pemerintah Indonesia berencana membentuk kembali perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor industri tekstil. Langkah strategis ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) penguatan industri padat karya yang telah dibahas bersama Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa rencana ini menjadi prioritas karena industri tekstil merupakan pilar utama ekonomi nasional dengan daya serap tenaga kerja yang sangat besar serta potensi ekspor yang tinggi.
Saat ini, sektor tersebut tengah menghadapi tekanan berat, terutama akibat kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) yang merupakan pasar ekspor utama.
"Jadi kemarin rapat di Hambalang dengan Bapak Presiden, dan kami mengusulkan sudah diselesaikan roadmap (sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garment) sekaligus," kata Airlangga di Jakarta, dikutip Kamis (15/1/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa fokus pemerintah adalah memperkuat sisi produksi sekaligus memperluas akses pasar internasional, salah satunya melalui percepatan perjanjian kerja sama IEU-CEPA dengan Uni Eropa.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Sehingga pendanaan 6 billion (USD6 miliar) nanti akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga.
Seiring dengan itu, Danantara Indonesia serius mengkaji pembentukan BUMN sektor tekstil. Sektor ini dinilai strategis untuk memperkuat industri padat karya nasional.
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, pada dasarnya setiap keputusan investasi Danantara selalu melalui uji kelayakan (feasibility study) dan penilaian (assesment) menyeluruh.
Namun, Danantara tidak hanya mengejar imbal hasil (return), melainkan juga dampak investrasi tersebut terhadap kondisi sosial dan ekonomi.
"Tentunya juga kita kan ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi, termasuk juga parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," ujarnya di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Menurut Rosan, sektor tekstil memiliki karakteristik sebagai industri padat karya yang berperan penting bagi ekonomi nasional.
Dia menyebut, Danantara selalu melihat peluang, termasuk pada perusahaan-perusahaan tekstil yang kinerja keuangannya tertekan untuk diperbaiki (turnaround) lewat restrukturisasi.
"Kita terbuka untuk menerima misalnya, investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita, apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi," katanya.
Dia menegaskan, pendekatan restrukturisasi yang disiapkan tidak hanya menyangkut permodalan, tetapi juga mencakup penjaminan pasar, penyiapan offtaker, perbaikan rantai pasok, hingga efisiensi operasional, sebagaimana pola yang telah diterapkan dalam penataan sejumlah BUMN sebelumnya.
Terkait skema kelembagaan, Rosan menyebutkan bahwa pemerintah masih membuka berbagai opsi, mulai dari pembentukan BUMN baru di sektor tekstil, penguatan entitas yang sudah ada, hingga kerja sama dengan investor strategis.
Seluruh skema tersebut masih dalam tahap kajian dan belum diputuskan secara final. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.