MARKET NEWS

Risiko Frontier Market Pudar, tapi MSCI Berpotensi Pangkas Bobot Indonesia

TIM RISET IDX CHANNEL 09/05/2026 08:00 WIB

Risiko Indonesia keluar dari indeks pasar berkembang MSCI mulai mereda.

Risiko Frontier Market Pudar, tapi MSCI Berpotensi Pangkas Bobot Indonesia. (Foto: Shutterstock)

IDXChannel - Risiko Indonesia keluar dari indeks pasar berkembang MSCI mulai mereda. Namun, tekanan jual asing diperkirakan belum sepenuhnya berakhir karena pasar kini mengalihkan perhatian pada potensi penurunan bobot Indonesia di indeks global tersebut.

Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin menilai kekhawatiran pasar terhadap potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market kini mulai memudar, setelah MSCI memberikan pembaruan terkait aksesibilitas pasar modal Indonesia.

Dalam risetnya yang terbit pada 6 Mei 2026, Wilbert mengatakan MSCI mengapresiasi reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan regulator Indonesia, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Pembaruan terbaru ini cukup untuk secara efektif menghilangkan risiko reclassification ke Frontier Market,” tulis Wilbert dalam riset tersebut.

Sebelumnya, pada 27 Januari 2026, MSCI sempat menyoroti metode penilaian free float saham di Indonesia.

Kekhawatiran itu memicu tekanan di pasar karena skenario penurunan status ke Frontier Market diperkirakan dapat memicu arus keluar dana asing lebih dari USD10 miliar atau setara dengan Rp174 triliun.

Meski demikian, Wilbert menilai perhatian pasar kini bergeser ke potensi penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI akibat penyesuaian free float dan penghapusan sejumlah saham.

MSCI disebut akan menerapkan perlakuan global terhadap saham-saham yang masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Dengan skema itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Grup Barito dan emiten Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI paling cepat pada rebalancing Mei 2026.

Selain itu, MSCI juga membuka peluang menggunakan data kepemilikan saham 1 persen terbaru untuk menghitung ulang free float emiten Indonesia.

Mirae memperkirakan mayoritas konstituen MSCI Indonesia akan terdampak negatif oleh penurunan free float, kecuali saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Beberapa saham bahkan dinilai berisiko terdepak dari indeks karena kapitalisasi pasar berbasis free float tidak lagi memenuhi ambang batas MSCI sebesar USD1,9 miliar atau sekitar Rp33 triliun.

Emiten yang masuk kategori tersebut antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

“Jika skenario ini terjadi, kami memperkirakan bobot Indonesia di MSCI dapat turun menjadi sekitar 0,6 persen dari posisi saat ini 0,7 persen,” kata Wilbert.

Untuk rebalancing kuartalan Mei 2026, Mirae Asset memperkirakan MSCI masih mempertahankan perlakuan sementara terhadap saham Indonesia.

Kebijakan itu mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian penambahan saham baru ke indeks, serta pembatasan kenaikan kelas saham antarsegmen indeks.

Selain BREN dan DSSA, Wilbert juga memperkirakan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bakal dikeluarkan dari indeks MSCI Mei 2026 akibat kapitalisasi pasar yang dinilai tidak lagi memenuhi syarat.

Mirae Asset memperkirakan tekanan jual asing masih akan berlanjut setidaknya hingga rebalancing MSCI berikutnya pada Agustus 2026, saat penyesuaian FIF diperkirakan mulai berlaku.

Jika penghapusan saham terkait HSC dan penurunan free float sama-sama terjadi, arus keluar dana asing diperkirakan mencapai sekitar USD2,4 miliar (Rp41,76 triliun), baik dari investor aktif maupun pasif.

“Pembaruan berikutnya diperkirakan akan disampaikan bersamaan dengan Market Accessibility Review pada Juni, yang akan terus kami cermati secara seksama,” demikian kata Wilbert. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE