MARKET NEWS

Risiko Standalone MSCI, 10 Saham Ini Tawarkan Dividen Menarik

TIM RISET IDX CHANNEL 21/10/2026 06:30 WIB

Investor tetap perlu selektif karena besarnya dividen belum tentu sebanding dengan risiko penurunan harga saham dan likuiditas perdagangan.

Risiko Standalone MSCI, 10 Saham Ini Tawarkan Dividen Menarik. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Di tengah tekanan pasar saham Indonesia akibat ancaman penurunan status dari emerging market menjadi standalone market oleh MSCI, saham dengan imbal hasil dividen tinggi mulai dilirik sebagai peluang investasi.

Namun, investor tetap perlu selektif karena besarnya dividen belum tentu sebanding dengan risiko penurunan harga saham dan likuiditas perdagangan.

Analis UOB Kay Hian dalam riset yang terbit pada 20 Oktober 2026 mengidentifikasi 10 saham yang dinilai menawarkan peluang pendapatan dividen, yakni ELSA, ASII, IPCC, AADI, MSTI, IPCM, PBID, SPTO, RALS, dan DLTA.

Daftar tersebut disusun dari penyaringan (screening) awal terhadap 45 saham berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari imbal hasil dividen (dividend yield), rekam jejak pembayaran dividen, valuasi, hingga kondisi neraca keuangan.

UOB Kay Hian menekankan bahwa kesepuluh saham tersebut bukan rekomendasi dengan bobot investasi yang sama.

Investor disarankan mengakumulasi saham secara bertahap apabila valuasi terkoreksi lebih jauh, dengan tetap mempertimbangkan likuiditas dan keberlanjutan pembagian dividen.

Dari 10 saham tersebut, tiga di antaranya masuk dalam cakupan riset UOB Kay Hian, yakni PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Ketiganya mendapat rekomendasi beli (buy).

ELSA memiliki proyeksi dividend yield sebesar 12,8 persen untuk 2026, ditopang ekspektasi peningkatan permintaan jasa minyak dan gas seiring dukungan pemerintah terhadap sektor tersebut.

Pendapatan dari jasa seismik yang diperkirakan meningkat pada paruh kedua 2026 juga berpotensi menopang kinerja perseroan.

UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli ELSA dengan target harga Rp1.450 per saham.

Sementara itu, ASII menawarkan proyeksi dividend yield 11,8 persen untuk 2026.

Daya tarik saham ini turut ditopang kerangka pengembalian kepada pemegang saham, termasuk program pembelian kembali saham senilai Rp8 triliun yang berlangsung pada Juli 2026 hingga Juli 2027 serta kebijakan rasio pembayaran dividen minimal 45-50 persen.

Untuk ASII, UOB Kay Hian juga mempertahankan rekomendasi beli. Dalam risetnya, target harga yang tercantum sebesar Rp7.100 per saham.

Kemudian, AADI memiliki proyeksi dividend yield 11,9 persen untuk 2026.

Prospek pembagian dividen ditopang siklus kenaikan harga batu bara dan permintaan musiman yang lebih kuat selama musim dingin.

Potensi dividen khusus setelah divestasi tambang Kestrel juga dapat mendorong yield melampaui 12 persen.

UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli AADI dengan target harga Rp14.300 per saham.

Saham di luar cakupan riset

Selain tiga saham tersebut, UOB Kay Hian menyoroti peluang dividen pada tujuh saham lain yang berada di luar cakupan risetnya, yakni IPCC, MSTI, IPCM, PBID, SPTO, RALS, dan DLTA.

Penilaian terhadap saham-saham tersebut didasarkan pada tingkat imbal hasil dividen, kemampuan menghasilkan kas, serta profil neraca keuangan.

Sejumlah saham memiliki kepemilikan asing yang relatif rendah sehingga berpotensi memiliki eksposur lebih terbatas terhadap tekanan jual investor asing.

Namun, likuiditas perdagangan yang tipis dapat menyulitkan investor saat masuk maupun keluar dari posisi, sehingga pembelian perlu dilakukan dengan ukuran posisi lebih kecil dan secara bertahap.

Salah satu saham yang disoroti adalah PT Master System Infotama Tbk (MSTI), penyedia infrastruktur teknologi informasi yang sekitar 54 persen pendapatannya berasal dari sektor perbankan.

Kebutuhan bank untuk memperbarui sistem teknologi dan memperluas pusat data dinilai dapat menopang permintaan jasa perseroan di berbagai kondisi ekonomi.

Pada semester I-2026, laba bersih MSTI tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi Rp205 miliar. Perseroan juga memiliki kas bersih Rp832 miliar per Juni 2026.

Dengan dividen per saham sebesar Rp122 pada 2025 dan rasio pembayaran dividen 70 persen, dividend yield historis MSTI mencapai 10,9 persen pada harga Rp1.120.

Jika rasio pembayaran tetap 70 persen dan mengacu pada estimasi konsensus laba bersih 2026 sebesar Rp580 miliar, yield berpotensi mencapai 11,5 persen.

Peluang lain datang dari PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), produsen kemasan plastik yang memiliki pangsa pasar sekitar 32-35 persen.

Permintaan produknya dinilai relatif bertahan ketika daya beli melemah karena konsumen beralih ke makanan yang lebih terjangkau, termasuk makanan yang dijual pedagang kaki lima.

Laba bersih PBID pada semester I-2026 melonjak 112 persen secara tahunan menjadi Rp410 miliar, didukung kenaikan harga jual.

Dividen per saham sebesar Rp53 pada 2025, dengan rasio pembayaran hampir 100 persen, menghasilkan yield historis 10,6 persen pada harga Rp500.

Apabila laba bersih 2026 mencapai Rp618 miliar dan rasio pembayaran dividen berada di 95 persen, yield PBID berpotensi mencapai 15,6 persen.

Bahkan, jika laba semester I-2026 disetahunkan dengan rasio pembayaran 90 persen, yield secara teoritis dapat mencapai 19,7 persen.

Namun, angka tersebut merupakan skenario perhitungan, bukan kepastian dividen yang akan dibagikan.

Sementara itu, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) menawarkan dividend yield historis 12,2 persen dengan arus kas bebas (free cash flow/FCF) Rp342 miliar.

Rekam jejak dividen yang meningkat menjadi daya tarik, meskipun besarnya pembagian dividen ke depan tetap bergantung pada volume penanganan kendaraan dan kebutuhan investasi terminal.

PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), yang bergerak dalam layanan pemanduan dan penundaan kapal, juga masuk dalam daftar. Pendapatan berulang dari kebutuhan layanan kapal yang memasuki pelabuhan menjadi salah satu penopang bisnisnya.

Namun, kenaikan biaya bahan bakar menekan laba bersih IPCM sebesar 24 persen secara tahunan pada semester I-2026. Dengan dividen per saham Rp23,75 pada 2025, yield historisnya mencapai 9,7 persen pada harga Rp246.

Jika laba bersih 2026 turun 24 persen menjadi Rp150 miliar dan rasio pembayaran dividen mencapai 70 persen, yield diperkirakan sekitar 8,1 persen.

Likuiditas perdagangan yang sangat rendah masih menjadi kendala utama saham IPCM.

Di sektor ritel, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memiliki kas bersih Rp1,66 triliun per Juni 2026, setara sekitar 66 persen kapitalisasi pasarnya.

Kondisi tersebut memberikan dukungan bagi pembagian dividen, tetapi bisnis department store perseroan masih menghadapi persaingan kanal daring dan tekanan belanja masyarakat berpenghasilan rendah.

Laba bersih RALS pada semester I-2026 turun 11 persen secara tahunan menjadi Rp205 miliar.

Dividen per saham Rp50 pada 2025 menghasilkan yield historis 14,1 persen pada harga Rp354.

Namun, pembagian dividen tersebut setara dengan 134 persen laba per saham tahun lalu, sehingga keberlanjutannya perlu dicermati.

Jika laba bersih 2026 mencapai Rp240 miliar dan seluruh laba tersebut dibagikan sebagai dividen, yield RALS diperkirakan sekitar 9,5 persen.

Untuk PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO), yang mendistribusikan perlengkapan kamar mandi dan menjadi distributor eksklusif TOTO di Indonesia, yield historis mencapai 12 persen.

Perseroan juga mencatat FCF selama 12 bulan terakhir sebesar Rp324 miliar dan rasio utang terhadap ekuitas relatif rendah, yakni 0,11 kali.

Meski demikian, kebutuhan persediaan, permintaan yang berkaitan dengan sektor perumahan, serta investasi manufaktur dapat memengaruhi besaran dividen.

Turnover saham yang tipis juga menjadi pertimbangan dalam menentukan ukuran investasi.

Lebih lanjut, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA), produsen bir dengan merek antara lain Anker, Carlsberg, San Miguel, dan Kuda Putih, menawarkan yield historis 11 persen.

Perseroan memiliki FCF selama 12 bulan terakhir Rp207 miliar dan rasio utang terhadap ekuitas hanya 0,01 kali.

Kas bersih DLTA setara 56 persen kapitalisasi pasarnya, memberikan ruang bagi pembagian dividen.

Namun, arus kas bebas dalam tiga tahun terakhir belum sepenuhnya menutup pembayaran dividen tunai.

Likuiditas perdagangan yang sangat rendah juga membatasi partisipasi investor institusi.

Saham big cap menanti valuasi lebih menarik

Di luar daftar 10 saham tersebut, UOB Kay Hian juga mencermati peluang pada saham berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), ASII, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Saham-saham tersebut menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, tetapi statusnya sebagai konstituen indeks MSCI membuatnya tetap rentan terhadap tekanan jual terkait perubahan acuan investasi.

Karena itu, UOB Kay Hian menyarankan investor memantau peluang masuk ketika valuasi menjadi lebih menarik.

Penilaian tidak cukup hanya mengandalkan besarnya dividend yield, tetapi juga perlu memperhitungkan keberlanjutan laba, kebutuhan modal, serta kekuatan neraca perusahaan.

Dengan tekanan jual yang berpotensi berlanjut, strategi akumulasi bertahap dinilai lebih sesuai dibandingkan membeli sekaligus.

Investor juga perlu menyisakan ruang untuk menambah posisi jika harga saham kembali terkoreksi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE