Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.547 per USD, Berikut Sentimen Pemicunya
Nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (10/9/2026) sore, turun 36 poin atau sekitar 0,21 persen.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (10/9/2026) sore, turun 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.547 per USD.
Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni AS dan Iran terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda sejenak pada Agustus.
"Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada hari Rabu, sementara AS mengaku telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran," ujar Ibrahim dalam risetnya.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan. Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global.
Kemudian, para investor saat ini bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat besok. Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan.
Dari sentimen domestik, kata Ibrahim, meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian. Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor di antaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG).
Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Kemudian, apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik.
Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah umumnya mengandalkan 'bantal fiskal' (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (rejeki nomplok/windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.
Meski demikian, ujar dia, tekanan penurunan tertahan oleh sentimen konsumen pada Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih cerah.
"Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat sehingga demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat penomena makan tabungan," katanya
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.540-Rp17.590 per USD.
(Dhera Arizona)