Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.862 Jelang Pengumuman BI Rate
Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,36 persen ke level Rp17.862 per USD pada Selasa (18/8/2026) menjelang pengumuman BI Rate.
Keputusan suku bunga akan diumumkan oleh Bank Indonesia pada Rabu (19/8/2026). Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama kembali memanasnya harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Menurut Ibrahim, pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
“Trump menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (18/8/2026)
Trump juga mengancam akan melakukan serangan terhadap Oman jika negara tersebut dianggap menghalangi, meskipun belum jelas dasar dari ancaman tersebut.
Di sisi lain, Iran disebut akan mengubah postur militernya menjadi sepenuhnya ofensif setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan AS menemui jalan buntu. Washington juga menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah kelompok Houthi Yaman kembali menyerang kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal. Serangan tersebut disampaikan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, melalui Telegram.
Meski demikian, Iran dan Oman sebelumnya mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Perkembangan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak, meskipun hingga kini belum ada kesepakatan yang pasti.
Ibrahim menilai risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi masih menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun.
“Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, harga minyak mentah yang berada di atas USD83 per barel turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi.
Tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor minyak mentah di pasar global berpotensi meningkatkan permintaan terhadap mata uang Paman Sam sekaligus menekan nilai tukar rupiah.
Sentimen domestik lainnya berasal dari perkembangan utang luar negeri (ULN) Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun.
Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan ULN pada Mei 2026 yang mencapai USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.860-Rp17.920 per USD pada pekan ini.
(DESI ANGRIANI)