Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.058 per USD Usai BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen
Melansir Bloomberg, mata uang Garuda naik 129,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp18.058 per USD.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026) usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga 25 basis poin ke level 5,50 persen. Melansir Bloomberg, mata uang Garuda naik 129,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp18.058 per USD.
Keputusan BI menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah.
Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Sebelumnya, BI mencatat adanya penyusutan pada posisi cadangan devisa negara menjadi USD144,9 miliar per akhir periode Mei 2026. Terjadi penurunan sebesar USD1,3 miliar jika dibandingkan dengan April 2026 yang tecatat sebesar USD146,2 miliar. Penurunan ini didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadev ini adalah yang terendah sejak Juli 2024.
“Saat ini pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.200 per USD. Selain stimulus ekonomi, pemerintah akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) yang belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional,” tulis Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya.
Dari eksternal, sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel mengatakan mereka telah menghentikan serangan satu sama lain setelah seruan dari Presiden AS Donald Trump agar mereka segera menghentikan penembakan, meskipun Teheran mengatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam pernyataan video yang disiarkan oleh televisi Israel bahwa Israel akan merespons dengan kekuatan jika Iran menyerang lagi. Trump mengatakan kepada Axios dalam sebuah wawancara bahwa ia sudah memperingatkan Netanyahu jika kembali berperang dengan Iran.
Salah satu isu kunci yang ditekan Washington kepada Teheran dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari.
Pada Senin, pasukan AS melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak tanpa muatan di Teluk Oman setelah kapal tersebut mencoba berlayar ke pelabuhan Iran, melanggar blokade yang sedang berlangsung terhadap Iran, kata militer AS.
Pasar juga khawatir bahwa inflasi yang didorong oleh energi dapat tetap tinggi, mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve, dan dalam beberapa kasus, memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Mei, yang akan dirilis Rabu, yang diperkirakan akan naik 4,2 persen YoY, setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen.
(NIA DEVIYANA)