MARKET NEWS

Rupiah Loyo Lawan Dolar AS, Sore Ini Nyaris Tembus Rp17.000 per USD

Anggie Ariesta 20/01/2026 16:44 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), dengan mencatatkan penurunan 1,5 poin atau sekitar 0,01 persen.

Rupiah Loyo Lawan Dolar AS, Sore Ini Nyaris Tembus Rp17.000 per USD. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), dengan mencatatkan penurunan 1,5 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp16.956 per USD.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Presiden AS Donald Trump mempertahankan tuntutannya untuk Greenland, dan dalam sebuah wawancara dengan NBC News, ia tidak mengungkapkan apakah dia akan mengerahkan militer untuk pulau tersebut.

"Kekhawatiran akan intervensi militer AS meningkat pada bulan Januari setelah Washington melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Trump kini menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana presiden AS kemungkinan akan bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.

Sementara itu mengenai prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch.

Dari sentimen domestik, Dana Moneter Internasional atau IMF merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5 persen.

Proyeksi terbaru ini juga merevisi keatas ramalan sebelumnya di Oktober 2025. Proyeksi untuk 2026 lebih tinggi 0,2 persen poin dan untuk 2027 lebih tinggi 0,1 persen. Revisi ke atas ini beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 yang naik prospek pertumbuhan menjadi 3,3 persen, dari sebelumnya hanya 3,1 persen Oktober 2025.

IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencanya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun ini, yang mengompensasi risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan global.

Terlepas dari itu, prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,1 persen pada 2026 dan 2027 itu hanya tertinggal dari Filipina yang prospek pertumbuhannya hingga 5,6 persen pada 2026 dan 5,8 persen pada 2027, serta India yang tumbuh 6,4 persen pada 2026 dan 2027.

Bila dibandingkan proyeksi terbaru Bank Dunia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terjaga di level 5,1 persen pada 2026, sebagaimana laju pertumbuhan sejak 2023-2025. Lalu, baru meningkat ke level 5,2 persen pada 2027.

"Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu menurut Bank Dunia disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah," kata Ibrahim.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.950-Rp16.980 per USD.

(Dhera Arizona)

SHARE