MARKET NEWS

Rupiah Menguat ke Rp17.818 Usai BI Tahan Suku Bunga

Anggie Ariesta 23/09/2026 17:03 WIB

Penguatan rupiah dipengaruhi oleh peluang diplomasi konflik Iran dan AS serta kebijakan BI dalam mempertahankan suku bunga acuan.

Rupiah Menguat ke Rp17.818 Usai BI Tahan Suku Bunga (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 66 poin atau 0,37 persen ke level Rp17.818 per USD pada perdagangan Rabu(22/9/2026) usai Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi oleh peluang diplomasi konflik Iran dan AS serta kebijakan BI dalam mempertahankan suku bunga acuan.

"Namun, Iran dan AS saling melontarkan ancaman baru pada hari Minggu di tengah kebuntuan situasi, meskipun Presiden Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan berada di New York minggu ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Iran sebelumnya telah menyampaikan sejumlah syarat kepada pihak penengah untuk kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik dengan AS. Hal tersebut disampaikan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei dalam sebuah wawancara pada Sabtu, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Namun, ketegangan di Timur Tengah masih tinggi. Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut "sensitif" di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone).

Houthi juga menyatakan telah menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, kota di tepi Laut Merah yang merupakan salah satu pusat ekspor minyak Arab Saudi.

Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco turut mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan. Sebelumnya, sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.

Dari Amerika Serikat, agenda ekonomi pada pekan ini relatif terbatas. Namun, sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menyampaikan pidato. Pernyataan mereka akan dicermati pasar untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati kebijakan pemerintah terkait pembentukan bursa komoditas yang ditujukan untuk membantu pengendalian harga.

Ketentuan lebih lanjut mengenai bursa tersebut nantinya akan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk produk yang dapat diperdagangkan dan tahapan perdagangan melalui aturan tersendiri.

Sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan OJK antara lain kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar. OJK juga akan mengambil alih pengaturan bursa tersebut dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari 2027.

Selain itu, pasar mencermati kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta arah kebijakan bank sentral global yang berbeda-beda.

Sebagian bank sentral masih mengambil sikap hawkish, sementara sebagian lainnya memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran dengan mempertahankan suku bunga acuannya.

Ibrahim mengatakan, kondisi inflasi global juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Di sisi fiskal, pasar kembali mencermati defisit anggaran yang berada di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Batas tersebut kerap digunakan sebagai salah satu indikator disiplin fiskal pemerintah.

Berdasarkan sejumlah sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan potensi melemah di kisaran Rp17.750–Rp17.800 per USD.

(DESI ANGRIANI)

SHARE