MARKET NEWS

Rupiah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS, Ini Respons Pengamat

Anggie Ariesta 28/05/2026 11:58 WIB

Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan dengan mendekati Rp17.900 per dolar AS per Kamis (28/5/2026) pagi.

Rupiah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS, Ini Respons Pengamat (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel – Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan dengan mendekati Rp17.900 per dolar AS per Kamis (28/5/2026) pagi. 

Kombinasi dari eskalasi konflik geopolitik di tingkat internasional serta rentetan beban komparatif dari dalam negeri menjadi pendorong utama amblesnya mata uang Garuda pada perdagangan hari ini.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pergerakan kurs Rupiah sudah menunjukkan penyusutan yang signifikan dan berpotensi menuju level Rp18.000 per dolar AS.

"Tapi hari ini cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu rilis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp17.870. Ada kemungkinan hari besok pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000,” jelas Ibrahim dalam analisisnya, Kamis (28/5/2026).

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke instalasi strategis di wilayah Iran Selatan. Berdasarkan laporan intelijen Rusia, AS bahkan tengah mempersiapkan skenario perang skala besar menggunakan milisi sipil di Suriah.

Ditambah lagi, ancaman dari Presiden Donald Trump terhadap Oman serta kehadiran armada laut canggih AS di Israel kian menutup ruang damai dan berpotensi memicu penutupan Selat Oman.

Ketegangan geopolitik kian diperparah oleh hancurnya ibu kota Ukraina, Kiev, akibat bombardir masif dari militer Rusia. Eskalasi ganda di Timur Tengah dan Eropa Timur ini langsung mengerek naik harga minyak mentah dunia jenis WTI ke atas level 92 hingga menyentuh USD96 per barel, yang memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi global.

Di sektor moneter, pernyataan pejabat Federal Reserve, Neel Kashkari, mengindikasikan fokus Bank Sentral AS di bawah Kevin Warsh kini beralih sepenuhnya untuk memerangi inflasi tinggi.

"Ada indikasi bahwa 52,3 persen para ekonom mengatakan bahwa Bank Sentral kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun ini bahkan bisa menaikkan suku bunga satu kali. Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi give up," kata Ibrahim.

Ibrahim secara kritis juga menyentil optimisme sejumlah pejabat pemerintah dan Menteri Keuangan yang sebelumnya memproyeksikan Rupiah akan menguat. 

Menurutnya, realitas di pasar menunjukkan hal sebaliknya karena banyaknya beban internal terstruktur yang sedang dihadapi Indonesia.

Faktor domestik yang menahan laju Rupiah antara lain tingginya kebutuhan Dolar AS untuk menutup biaya impor minyak akibat lonjakan harga energi, siklus tahunan pembayaran dividen korporasi ke luar negeri, peralihan simpanan masyarakat ke valuta asing (valas), serta beban utang jatuh tempo pemerintah yang bunganya menembus Rp600 triliun.

Situasi kian diperkeruh oleh isu tata kelola program pemerintah. Selain penghentian sebagian program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian pasar kini tertuju pada karut-marut manajemen Koperasi Merah Putih yang berpotensi merugikan keuangan negara hingga Rp45 triliun dan tengah dibidik oleh KPK serta Jaksa Agung.

Ibrahim menambahkan, derasnya arus modal keluar (capital outflow) ini tidak mampu dibendung sepenuhnya oleh Bank Indonesia (BI) yang kekuatannya terbatas karena hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional selama masa libur domestik. 

Ia memprediksi Rupiah bisa melemah hingga 100 poin dan terperosok ke level Rp17.900 per Dolar AS pada penutupan sore hari.

Berdasarkan data pergerakan pasar dari Bloomberg, posisi nilai tukar Rupiah saat ini terpantau berada di level Rp17.871 per Dolar AS.

Rapor tersebut menunjukkan mata uang Rupiah telah mengalami pelemahan sebesar 0,39 persen secara harian terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE