MARKET NEWS

Rupiah Sepekan Menguat Hampir 1 Persen Berkat Amunisi BI dan Revisi Bank Dunia

Anggie Ariesta 13/06/2026 13:13 WIB

Mata uang rupiah berhasil mencatatkan rapor hijau dengan melanjutkan tren penguatan yang solid terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini.

Rupiah Sepekan Menguat Hampir 1 Persen Berkat Amunisi BI dan Revisi Bank Dunia. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Mata uang rupiah berhasil mencatatkan rapor hijau dengan melanjutkan tren penguatan yang solid terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menerangkan, keperkasaan mata uang Garuda didukung penuh oleh respons agresif Bank Indonesia (BI) melalui kenaikan suku bunga acuan, derasnya pembalikan arus modal asing ke instrumen domestik, hingga sentimen positif revisi pertumbuhan ekonomi nasional oleh lembaga donor internasional.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di level Rp17.860 per dolar AS (USD), atau menguat 0,72 persen dibandingkan performa hari sebelumnya di posisi Rp17.989.

"Jika dikalkulasi dalam kurun waktu sepekan, rupiah tercatat melesat 0,98 persen dari posisi akhir pekan lalu yang sempat terkapar di level Rp18.036 per USD," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/6/2026).

Grafik pemulihan ini sejalan dengan pergerakan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs Jisdor terpantau bergerak perkasa dari posisi Rp18.171 per USD pada pembukaan Senin (8/6/2026) menjadi Rp17.921 per USD pada penutupan Jumat (12/6/2026), merepresentasikan penguatan struktural sebesar 1,38 persen dalam sepekan.

Ibrahim menerangkan, ketahanan rupiah di sepanjang pekan ini tergolong luar biasa karena mampu mengabaikan ragam tekanan geopolitik global yang membara di Timur Tengah.

Pasar terus berfluktuasi mencerminkan dinamika pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai progres damai, yang berbenturan keras dengan ancaman militer Iran untuk memblokade total Selat Hormuz sebagai jalur vital perlintasan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

"Di sisi lain, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, di mana lalu lintas kapal sudah sangat terbatas, dengan mengatakan akan menembak kapal apa pun yang mencoba melewati jalur air tersebut," katanya.

Di saat yang sama, bursa global juga dihantui oleh rilis data ekonomi AS yang menunjukkan lonjakan inflasi pada bulan Mei akibat tingginya biaya energi, sehingga memicu kekhawatiran suku bunga global akan tertahan di level tinggi.

Kendati dibayangi sentimen eksternal yang keruh, rupiah mendapatkan vitamin kuat dari dalam negeri berkat pengakuan lembaga internasional terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Bank Dunia (World Bank) secara resmi merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun anggaran 2026 menjadi 5,0 persen. Estimasi terbaru ini melompat signifikan dibandingkan proyeksi pada April lalu yang sempat meramal laju Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan melambat di level 4,7 persen.

"Koreksi positif terhadap fundamental makro inilah yang menjadi dinamo utama bagi investor asing untuk kembali memburu aset keuangan Indonesia dan memicu penguatan rupiah sepekan," kata Ibrahim.

Terpisah, Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan, performa impresif mata uang domestik di sepanjang pekan ini merupakan cerminan langsung dari respons positif para pengelola dana global terhadap bauran kebijakan moneter yang dirilis bank sentral. Sinergi ketat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah dinilai berhasil meredam volatilitas pasar.

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," kata Destry dalam keterangan resminya, Jumat (12/6/2026).

Destry memaparkan, pengetatan moneter terbukti ampuh memantik pembalikan modal asing (capital inflow) ke berbagai instrumen keuangan dalam negeri, mulai dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Surat Berharga Negara (SBN). Bahkan, sentimen positif ini turut mengalir deras pada produk investasi baru bentukan pemerintah, yakni Danantara.

"Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," katanya.

Selain itu, pertahanan eksternal rupiah dipertebal lewat diplomasi regional bersama People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melalui perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dan penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).

"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Destry.

BI memastikan akan terus menyiagakan kehadirannya di pasar melalui intervensi berlapis secara terukur demi mengawal mata uang nasional kembali pada nilai fundamentalnya.

"Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap US dollar menuju ke level fundamentalnya," kata Destry.

(Dhera Arizona)

SHARE