MARKET NEWS

Rupiah Tembus Rp18.000, Alfamidi (MIDI): Harga Produk Ritel Berpotensi Naik

Tangguh Yudha 04/06/2026 15:19 WIB

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah produk ritel.

Rupiah Tembus Rp18.000, Alfamidi (MIDI): Harga Produk Ritel Berpotensi Naik (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah produk ritel yang menggunakan bahan baku impor. 

Finance Director Alfamidi, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) Suantopo Po mengatakan, berbagai produk yang bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya sehingga berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

"Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin Dolar itu kan sudah Rp18.000 ya. Tentu saja mungkin banyak produknya yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga," ucapnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang pada Kamis (4/6/2026).

Suantopo mencontohkan, sejumlah komoditas seperti susu, kacang hijau, dan kedelai yang masih bergantung pada pasokan impor. Kenaikan biaya bahan baku tersebut, kata dia, berpotensi memicu kenaikan harga produk jadi yang menggunakan bahan-bahan tersebut.

Dia menegaskan, penyesuaian harga akan mengikuti kebijakan pemasok atau prinsipal. Jika produsen menaikkan harga akibat kenaikan biaya produksi, maka harga di tingkat ritel juga akan ikut disesuaikan.

"Pada prinsipnya, apabila dari prinsipal memang menaikkan harga, ya pasti otomatis kita akan menaikkan harga juga, kan. Kita adalah retailer. Jadi, enggak mungkin tidak ada kenaikan harga," tuturnya.

Meski demikian, Suantopo tetap optimistis terhadap prospek bisnis perseroan di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, sektor ritel kebutuhan sehari-hari merupakan industri yang bersifat defensif dan relatif mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.

"Perseroan adalah bergerak di bidang perdagangan ritel yang memang industri yang defensif dan kita sudah buktikan bahwa perseroan juga berhasil melalui masa pandemi Covid 2020 dengan baik. Tujuh bulan ke depan kita tetap yakin bahwa secara fundamental perseroan tetap cukup kuat dan tetap bisa tumbuh secara moderat dibandingkan tahun sebelumnya," kata dia.

(DESI ANGRIANI)

SHARE