Saham Bank Besar hingga Emiten Prajogo Jadi Beban IHSG Sepekan
Sederet saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini.
IDXChannel - Sederet saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini, di tengah tekanan sentimen rebalancing MSCI Mei 2026 dan pengumuman terbaru FTSE Russell terkait saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi penekan terbesar IHSG setelah merosot tajam 9,29 persen dalam sepekan ke Rp4.200 per unit dan memangkas indeks hingga 33,64 poin. Tekanan besar juga datang dari saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ambles 21,95 persen ke Rp3.200 per unit dan membebani IHSG sebesar 33,20 poin seiring terdampak kabar MSCI. Sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 21,82 persen dengan kontribusi negatif 24,81 poin terhadap indeks.
Selain itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 24,11 persen dan mengurangi IHSG sebesar 10,80 poin. Saham Grup Barito lain seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga menjadi sorotan pasar setelah isu free float dan konsentrasi kepemilikan mencuat pasca pengumuman MSCI dan FTSE Russell.
Dari Grup Sinarmas, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 20,99 persen dan menekan IHSG sebesar 24,25 poin.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang terafiliasi dengan Grup Salim turun 12,11 persen dengan kontribusi negatif 15,50 poin terhadap indeks.
Saham bank besar lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 4,29 persen dan membebani IHSG sebesar 21,96 poin. Selain itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,21 persen dengan kontribusi negatif 7,03 poin terhadap indeks.
Tekanan terhadap saham-saham big caps tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan arus keluar dana asing dari Indonesia setelah hasil review MSCI dan FTSE Russell.
Dalam sepekan, investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp2,80 triliun di pasar reguler, seiring IHSG turun 3,53 persen.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 1,98 persen ke level 6.723,320 pada perdagangan Rabu (13/5).
Tekanan muncul setelah sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index dalam hasil review kuartalan MSCI Mei 2026.
Sentimen negatif bertambah setelah FTSE Russell menyatakan akan menghapus saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari indeksnya dengan harga nol (zero price) efektif pada 22 Juni 2026.
Dalam pengumuman di situs resminya, FTSE Russell menyebut langkah tersebut menjadi bagian dari tinjauan indeks Juni 2026 yang juga mencakup pembaruan klasifikasi industri (ICB updates), pembaruan jumlah saham kuartalan, serta penurunan free float sejumlah saham Indonesia.
Selain itu, FTSE Russell menyatakan keputusan lanjutan terkait perlakuan indeks terhadap Indonesia akan dipertimbangkan menjelang peninjauan indeks September 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.