Saham Bank Besar Kompak Merah, BBCA Turun Lebih dari 6 Persen
Saham bank besar ditutup melemah tajam pada Selasa (30/6/2026), mengikuti pelemahan pasar secara umum.
IDXChannel – Saham bank besar ditutup melemah tajam pada Selasa (30/6/2026), mengikuti pelemahan pasar secara umum seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,05 persen ke level 5.643,19.
Sektor jasa keuangan (IDXFINANCE) melemah 1,89 persen, bersama 10 sektor lainnya.
Tekanan terbesar terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Berdasarkan data perdagangan, saham BBCA berakhir di level Rp5.550 per unit, turun 6,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini menjadikan BBCA sebagai saham bank besar dengan koreksi terdalam pada perdagangan hari ini.
Asing memang tengah rajin melepas saham Grup Djarum tersebut sejak awal tahun, bersama bank besar lainnya. Nilainya mencapai Rp32,14 triliun sepanjang 2026, terbesar di bursa domestik.
Selain BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga tercatat melemah. Saham BBRI ditutup melemah 3,87 persen ke level Rp2.730 per unit.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,28 persen menjadi Rp3.850 per saham. Tidak ketinggalan, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terdepresiasi 3,07 persen ke level Rp3.160 per unit.
Saham bank besar menjadi pemberat IHSG hari ini bersama saham-saham konglomerat kenamaan, seperti Grup Barito, Sinarmas, hingga Salim.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan pasar terjadi secara menyeluruh (broad-based), sehingga tekanan bukan hanya berasal dari satu sektor atau saham tertentu.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.900 per USD.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan eksternal terhadap aset domestik belum sepenuhnya mereda, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
"Pergerakan Rupiah dan sentimen global diperkirakan masih menjadi faktor yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek," tulis BRI Danareksa, Selasa (30/6).
BRI Danareksa menilai koreksi tajam pada perdagangan hari ini mencerminkan pasar yang sedang berada dalam fase risk-off, ketika investor lebih memilih mengurangi risiko dibandingkan menambah posisi.
"Selama belum ada katalis positif baru, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi," tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Meski demikian, bagi investor dengan orientasi jangka panjang, kondisi pasar yang terkoreksi dapat menjadi kesempatan untuk mencermati saham-saham berkualitas yang mengalami penurunan valuasi.
Namun, investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko dan menunggu tanda-tanda stabilisasi pasar sebelum meningkatkan eksposur. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.