Saham BRIS Menguat 5 Persen, Buyback Rp500 Miliar di Tengah Rencana Rights Issue
Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), ditopang rencana pembelian kembali saham.
IDXChannel – Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), ditopang rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp500 miliar.
Namun, di tengah volatilitas pasar yang tinggi, investor juga perlu mencermati rencana rights issue yang berpotensi menambah jumlah saham beredar sekaligus memicu dilusi kepemilikan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.36 WIB, saham BRIS naik 5,21 persen ke Rp1.110 per unit.
Nilai transaksi mencapai Rp136,5 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 123,2 juta saham.
BSI akan melaksanakan buyback secara bertahap atau sekaligus pada 27 Oktober 2026 hingga 26 Januari 2027.
Aksi korporasi tersebut tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS), dengan nilai maksimal Rp500 miliar atau tidak melebihi 20 persen dari modal disetor. Dana buyback akan bersumber dari kas internal perusahaan.
Meski berpotensi menopang permintaan saham, buyback berlangsung ketika BRIS juga menghadapi agenda penambahan modal.
Perseroan berencana menerbitkan maksimal 6,8 miliar saham baru melalui rights issue yang akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 6 November 2026, dengan target penyelesaian pada kuartal I-2027.
Analis Mirae Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai angka 6,8 miliar saham tersebut merupakan batas maksimum penerbitan, bukan jumlah yang pasti direalisasikan.
Dalam riset 1 Oktober 2026, ia memperkirakan kebutuhan modal BRIS pada 2027 mencapai Rp13,34 triliun.
Sekitar Rp8,1 triliun berpotensi dipenuhi dari laba ditahan, sehingga kebutuhan dana melalui rights issue diperkirakan sekitar Rp5,3 triliun.
Dengan kebutuhan tersebut, BRIS diperkirakan cukup menerbitkan 4,4 miliar hingga 4,9 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp1.070-Rp1.200 per saham.
Perhitungan itu menggunakan asumsi diskon 15-25 persen dari harga saham saat itu.
Jika jumlah penerbitan berada pada kisaran tersebut, dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya diperkirakan sekitar 9-10 persen.
Angka ini lebih rendah dibandingkan potensi dilusi maksimum 12,85 persen apabila seluruh 6,8 miliar saham diterbitkan.
Rights issue juga berpotensi meningkatkan porsi saham beredar publik atau free float BRIS, yang saat ini tercatat sebesar 9,91 persen.
Namun, jumlah final saham yang diterbitkan, harga pelaksanaan, dan tingkat partisipasi pemegang saham pengendali masih menunggu prospektus.
Di sisi lain, Macquarie dalam riset 20 Oktober 2026 menilai BRIS berpeluang menjadi satu-satunya bank BUMN yang dapat meningkatkan rasio pembayaran dividen setelah rights issue diperhitungkan.
Peluang tersebut bergantung pada kemampuan BSI menghimpun tambahan modal sekaligus meningkatkan free float.
Macquarie juga menilai saham BRIS telah diperdagangkan dengan diskon besar.
Dari sisi valuasi, menurut Mirae, saham bank syariah terbesar di Indonesia itu berada di kisaran 1,0 kali price-to-book value (P/B) untuk 12 bulan ke depan.
Valuasi tersebut dinilai relatif rendah dibandingkan profil bisnis BRIS, yang memiliki return on equity (ROE) sebelum rights issue sekitar 15–16 persen dan pertumbuhan pembiayaan di kisaran belasan persen.
Meski demikian, penguatan harga saham di tengah rencana buyback belum dengan sendirinya menghilangkan risiko dari agenda penambahan modal.
Arah pergerakan BRIS selanjutnya juga akan dipengaruhi oleh realisasi buyback, kepastian skema rights issue, serta respons investor terhadap potensi dilusi dan peningkatan free float. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.