Saham GOTO, Konglo, hingga Bank Kompak Jadi Pemberat IHSG Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026), tetapi masih mencatat koreksi sepanjang pekan.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026), tetapi masih mencatat koreksi sepanjang pekan.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk emiten yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi dan saham perbankan, menjadi penekan utama indeks.
IHSG ditutup naik 0,46 persen level 6.036,89 pada Jumat. Namun, secara mingguan indeks masih melemah 3,28 persen, dengan investor asing mencatat net sell sekitar Rp3,90 triliun di pasar reguler.
Berdasarkan data pada daftar top laggards, saham-saham konglomerasi dan perbankan menyumbang tekanan yang cukup besar terhadap IHSG.
Tiga saham konglomerasi dalam daftar tersebut, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), secara total memberikan kontribusi negatif 41,39 poin terhadap IHSG.
AMMN, yang terafiliasi dengan Grup Salim, menjadi salah satu pemberat terbesar setelah harganya turun 10,17 persen dalam sepekan ke Rp4.240 per unit. Pelemahan tersebut menyumbang tekanan sebesar 19,13 poin terhadap IHSG.
Sementara itu, saham Grup Bakrie melalui BRMS turun 13,64 persen ke Rp570 per unit, dengan kontribusi negatif 13,74 poin.
Saham BREN dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu juga terkoreksi 8,52 persen ke Rp2.830 dan memberikan tekanan 8,52 poin terhadap indeks.
Tekanan juga datang dari sektor perbankan. Dua bank besar dalam daftar top laggards, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), secara bersama-sama menyumbang minus 23,46 poin terhadap IHSG.
BBCA turun 2,40 persen dalam sepekan ke Rp6.100 per unit dan memberikan kontribusi negatif 13,15 poin.
Sementara, BBRI melemah 2,22 persen ke Rp3.080 dengan tekanan 10,31 poin terhadap indeks.
Pada perdagangan Jumat, BBRI masih ditutup turun 0,65 persen, sedangkan BBCA justru menguat 1,67 persen ke Rp6.100.
Dengan demikian, kelompok saham konglomerasi dan bank dalam daftar tersebut menyumbang total tekanan 64,85 poin terhadap IHSG, atau hampir separuh dari total kontribusi negatif 135,93 poin yang berasal dari 10 saham top laggards dalam daftar.
Di luar kelompok tersebut, tekanan terbesar datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Saham GOTO jatuh 40 persen sepanjang pekan ke Rp30 dan menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi minus 36,71 poin terhadap IHSG usai bursa menghapus aturan batas bawah harga saham dari Rp50 ke Rp1. Namun, pada Jumat saham GOTO berbalik menguat 7,14 persen setelah sebelumnya mengalami tekanan jual beruntun.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga melemah 6,64 persen ke Rp2.250 dan memberikan kontribusi negatif 14,75 poin.
Sementara PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) anjlok 54,72 persen ke Rp163 dengan tekanan 7,79 poin, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) turun 6,89 persen ke Rp4.460 dengan kontribusi minus 5,92 poin, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 7,17 persen ke Rp2.850 dengan tekanan 5,91 poin.
Tekanan di pasar sepanjang pekan tersebut terjadi di tengah masih tingginya net foreign sell, pelemahan rupiah, yield US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik yang turut menjaga harga minyak tetap tinggi.
Investor juga beradaptasi dengan perubahan kebijakan BEI yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, yang berpotensi meningkatkan volatilitas terutama pada saham berharga rendah.
Dari sisi domestik, pasar turut mencermati ketidakpastian setelah reshuffle Kabinet Merah Putih serta implementasi mekanisme short selling yang mulai berlaku pada Oktober.
Tekanan eksternal juga masih berasal dari ekspektasi kebijakan The Fed yang relatif hawkish.
Namun, sentimen pasar berpotensi sedikit berubah setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan yang lebih tajam.
Nonfarm payrolls (NFP) September 2026 hanya bertambah 29.000, jauh di bawah konsensus 90.000, sementara data Juli dan Agustus juga direvisi turun sehingga total penciptaan lapangan kerja dalam dua bulan tersebut 60.000 lebih rendah dari laporan sebelumnya.
Menurut BRI Danareksa, perlambatan NFP tersebut cenderung positif bagi IHSG karena dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed dan mendukung risk appetite investor terhadap pasar negara berkembang.
Memasuki pekan depan, kata Phintraco Sekuritas, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari cadangan devisa pada 7 Oktober, indeks keyakinan konsumen pada 8 Oktober, hingga retail sales dan penjualan otomotif pada 9 Oktober.
Secara teknikal, menurut Phintraco, Stochastic RSI IHSG telah membentuk golden cross di area oversold, sementara histogram MACD masih berada di area negatif.
IHSG juga ditutup di atas MA3. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada kisaran 6.000-6.200 pada pekan depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.