Saham Konglo dan Bank Besar Tekan IHSG hingga Turun 3 Persen
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 3,06 persen ke 7.152,85 hingga penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4/2026).
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 3,06 persen ke 7.152,85 hingga penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4/2026), sekaligus memperpanjang tren koreksi menjadi lima hari berturut-turut.
Tekanan datang dari aksi jual pada saham-saham konglomerat dan perbankan berkapitalisasi besar (big cap).
Sepanjang perdagangan hingga siang ini, nilai transaksi di bursa mencapai Rp13,22 triliun dengan volume 27,14 miliar saham.
Mayoritas saham bergerak di zona merah, dengan 670 saham turun, 101 saham naik, dan 188 saham stagnan.
Dari kelompok konglomerat, tekanan terlihat pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 4,26 persen ke Rp4.720 per unit, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 5,48 persen ke Rp2.070 per unit, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 1,63 persen ke Rp6.050.
Kemudian, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 5,00 persen ke Rp1.330, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) ambles 9,91 persen ke Rp1.000, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) yang jatuh 8,10 persen.
Dari kelompok Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) merosot 9,78 persen ke Rp2.030.
Sementara itu, dari afiliasi Salim Group, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 6,79 persen ke Rp4.870 dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) melemah 4,70 persen ke Rp8.625.
Di kelompok Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkoreksi 3,47 persen ke Rp835.
Tekanan juga datang dari saham perbankan besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 5,45 persen ke Rp6.075, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) merosot 3,36 persen ke Rp3.740.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,53 persen ke Rp3.080, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,16 persen ke Rp4.530.
Selain itu, saham-saham besar lainnya juga ikut membebani indeks, seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang turun 3,47 persen ke Rp2.780 dan PT United Tractors Tbk (UNTR) melemah 2,31 persen ke Rp31.750.
Rupiah Tertekan di Level Terendah
Tren pelemahan rupiah menjadi salah satu sentimen utama yang membayangi pergerakan IHSG.
Nilai tukar rupiah menguat tipis ke level Rp17.290 per USD pada Jumat, setelah sempat menyentuh rekor terendah (all-time low/ATL) di kisaran Rp17.330 pada Kamis (23/4).
Meski demikian, sentimen pasar masih rapuh. Mengutip Trading Economics, Jumat (24/4), penguatan dolar AS yang didorong permintaan aset aman di tengah mandeknya upaya perdamaian AS-Iran terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (22/4) memilih tetap menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen, yang kini sudah tidak berubah dalam tujuh pertemuan terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk memperkuat stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar domestik maupun global.
Perry juga menilai rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia menambahkan, cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar USD148 miliar per Maret dinilai cukup kuat untuk meredam gejolak eksternal.
Namun, tekanan belum sepenuhnya mereda. Sepanjang bulan ini, rupiah berulang kali mencatatkan level terendah baru dan berpotensi melemah untuk minggu keempat berturut-turut.
Di sisi lain, data bank sentral menunjukkan adanya aliran masuk modal asing secara terbatas ke pasar obligasi pemerintah pada awal kuartal II.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data investasi langsung asing (FDI) kuartal I yang dijadwalkan pekan depan.
Kabar dari Fitch
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai Indonesia masih memiliki ruang untuk melewati batas defisit fiskal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) tanpa langsung memicu penurunan peringkat utang, selama langkah tersebut bersifat sementara dan dipicu gangguan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Direktur sovereign ratings Fitch, George Xu, mengatakan, dikutip Reuters, Kamis (23/4/2026), kunci utama terletak pada komunikasi pemerintah kepada pasar serta komitmen terhadap konsolidasi fiskal ke depan.
Ia menegaskan, jika arah kebijakan tetap kredibel, pelanggaran sementara tidak serta-merta berdampak negatif pada peringkat.
Namun, Fitch mengingatkan risiko akan meningkat bila defisit tinggi berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam skenario tersebut, fundamental kredit dapat melemah, terutama jika rasio utang terus meningkat, sehingga berpotensi memicu aksi penurunan peringkat.
Sebelumnya, Fitch telah menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari stabil, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian serta menurunnya kredibilitas kebijakan.
Penilaian tersebut bahkan belum memasukkan dampak konflik Iran yang berpotensi memperbesar tekanan fiskal, terutama dari lonjakan subsidi energi di tengah komitmen pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, pembuat kebijakan mulai membuka peluang defisit yang lebih lebar akibat perang. Skenario dasar defisit 2026 saat ini berada di kisaran 2,9 persen dari PDB, sedikit di bawah batas 3 persen, namun lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar 2,7 persen.
Bahkan, diskusi internal sempat mengarah pada potensi defisit hingga 4 persen.
Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah ambang batas guna meredam kekhawatiran investor.
Bagi Fitch, pelonggaran satu tahun masih dapat ditoleransi, selama tidak menjadi tren berkepanjangan.
Lebih lanjut, Fitch juga menyoroti risiko pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang terlalu agresif demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Minimnya reformasi struktural dinilai dapat mendorong pemerintah mengambil langkah ekspansif yang berisiko terhadap stabilitas jangka panjang.
Selain itu, lembaga ini akan mencermati potensi penggunaan dana investasi negara Danantara untuk mendanai belanja publik di luar mekanisme anggaran, yang dinilai bisa menjadi cara mengakali batas defisit.
Dari sisi moneter, perluasan mandat Bank Indonesia (BI) juga menjadi perhatian.
Rencana penambahan tugas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dinilai berpotensi mengaburkan fokus utama bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yang sempat melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp17.320 per USD pada Kamis.
Fitch menilai, kompleksitas mandat tersebut meningkatkan risiko kesalahan kebijakan, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi terhadap perekonomian Indonesia.
Asing Terus Lego Saham
IHSG sepanjang pekan ini masih dibayangi aksi jual investor asing. Tercatat, net foreign sell di pasar reguler mencapai Rp1,89 triliun, yang menahan ruang penguatan indeks.
Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (24/4), tekanan utama berasal dari saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Pelemahan pada saham-saham tersebut menjadi faktor dominan yang membatasi laju IHSG.
Meski demikian, investor asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar.
Mereka masih melakukan akumulasi secara selektif, terutama pada saham-saham berbasis komoditas seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Pergerakan ini mencerminkan rotasi dana ke sektor yang dinilai memiliki prospek lebih menarik, khususnya di tengah dinamika harga komoditas global.
Di sisi lain, partisipasi investor asing tercatat berada di kisaran 32 persen dari total nilai transaksi. Sementara itu, investor domestik tetap menjadi penopang utama pergerakan pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.