MARKET NEWS

Saham Konglo TPIA-DSSA Cs dan Bank Besar Seret IHSG hingga Turun 4 Persen

TIM RISET IDX CHANNEL 18/05/2026 10:23 WIB

Deretan saham berkapitalisasi jumbo menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga merosot lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (18/5).

Saham Konglo TPIA-DSSA Cs dan Bank Besar Seret IHSG hingga Turun 4 Persen. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Deretan saham berkapitalisasi jumbo menjadi pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga merosot lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.19 WIB, indeks acuan tersebut terkoreksi tajam 4,03 persen ke posisi 6.452,25. Pada pukul 10.00 WIB, IHSG bahkan sempat turun tajam 4,38 persen ke level 6.428,93.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp7,80 triliun dengan volume perdagangan 13,68 miliar saham. Sebanyak 703 saham turun, 89 saham naik, dan 167 saham lainnya stagnan.

Tekanan paling besar datang dari saham-saham konglomerasi, emiten teknologi dan petrokimia, hingga bank-bank big cap.

Kelompok saham konglomerat tercatat memimpin pelemahan. Emiten Grup Barito milik Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ambles hingga auto rejection bawah (ARB) 15 persen, tepatnya 14,88 persen ke Rp3.660 per unit, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 6,56 persen, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah 6,44 persen.

Tekanan di kelompok ini memperbesar beban IHSG mengingat kapitalisasi pasarnya sangat besar.

Dari kelompok konglomerasi lainnya, saham Grup Sinarmas yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) merosot hingga ARB 14,98 persen, sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang terafiliasi Grup Salim tersungkur 14,59 persen. Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik Salim-Agung Sedayu juga turun 4,49 persen.

Tekanan juga datang dari kelompok Bakrie Group. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 7,79 persen seiring meningkatnya aksi jual pada saham-saham berbasis komoditas dan konglomerasi domestik.

Sementara itu, sektor perbankan big cap ikut memperdalam pelemahan IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,87 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,88 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,38 persen, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 3,10 persen.

Koreksi bank-bank jumbo ini signifikan karena memiliki bobot besar dalam pergerakan indeks.

Di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 1,69 persen dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) melemah 1,85 persen. Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) terkoreksi 7,64 persen.

Selain itu, tekanan juga terlihat pada saham sektor bahan bangunan dan manufaktur seperti PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang turun 8,65 persen, serta PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang melemah 9,81 persen.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, tekanan terhadap IHSG pagi ini dipicu derasnya arus keluar dana asing setelah perubahan konstituen indeks global.

“Pada bulan ini, terjadi outflow terbesar dari indeks MSCI maupun FTSE. Dari enam emiten berkapitalisasi besar yang keluar, yaitu DSSA dan BREN yang berada dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), kemudian AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA,” ujar Michael, Senin (18/5/2026).

Dia menambahkan, tekanan pasar juga datang dari keputusan FTSE Russell yang akan menghapus DSSA dari konstituennya.

“Selain itu perlu diingat juga bahwa FTSE akan mengeluarkan DSSA dari konstituennya. Nilai outflow yang diperkirakan ada di kisaran Rp30 triliun,” katanya.

Menurut Michael, dana keluar tersebut berpotensi terus membebani pasar hingga periode rebalancing berikutnya pada Juni mendatang.

“Yang akan dieksekusi oleh passive fund sampai pada bulan depan Juni, yaitu rebalancing selanjutnya,” tutur dia.

Dari sisi teknikal, Michael menilai IHSG kini membentuk pola pelemahan yang cukup besar setelah gagal mempertahankan level support penting.

“IHSG memiliki pola head and shoulders besar, di mana gagal mempertahankan 6.850 sebagai support terakhir, dan menuju angka 6.000,” ujar Michael.

Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) menyusut menjadi sekitar 0,5 persen dari sebelumnya 0,7 persen. Penurunan itu dipicu eliminasi besar-besaran saham Indonesia dari indeks global MSCI.

Dalam review terbaru, MSCI mengeluarkan enam saham dari indeks Standard Cap. Dari jumlah tersebut, hanya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang dipindahkan ke indeks Small Cap. Sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sepenuhnya terhapus dari indeks MSCI.

MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari indeks Small Cap, sehingga total terdapat 19 saham domestik yang dieliminasi dalam rebalancing kali ini.

Mirae menilai langkah tersebut mencerminkan dampak pembekuan rebalancing sejak Januari lalu yang berkaitan dengan isu transparansi kepemilikan saham. Meski demikian, risiko Indonesia keluar dari kategori emerging market dinilai mulai mereda.

“Deletion without addition mendominasi,” tulis analis Mirae dalam risetnya.

Mirae memperkirakan penurunan bobot Indonesia di MSCI EM dapat memicu arus keluar dana gabungan pasif dan aktif sekitar USD1,7 miliar dari enam saham yang keluar dari Standard Cap. Jika memperhitungkan penurunan bobot saham konstituen lainnya, total potensi outflow diproyeksikan mencapai sekitar USD2,8 miliar.

Meski tekanan jual diperkirakan masih berlanjut hingga implementasi efektif pada 29 Mei 2026, Mirae menilai sebagian besar sentimen negatif telah tercermin di pasar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE