Saham Konglomerat Rebound usai Drama MSCI, Analis Soroti Masalah Ini
Saham-saham konglomerat mulai menunjukkan pemulihan setelah serempak tertekan bersama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Januari lalu.
IDXChannel – Saham-saham konglomerat mulai menunjukkan pemulihan setelah serempak tertekan bersama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Januari lalu di tengah ‘drama’ MSCI.
IHSG kini kembali menembus level psikologis 8.000, tepatnya di 8.274,08 pada penutupan Kamis (19/2/2026), setelah sempat anjlok ke 7.481,99 pada intraday 29 Januari 2026.
Meski demikian, tekanan dari investor asing masih terasa, tercermin dari aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,77 triliun dalam sepekan terakhir.
Sejumlah saham yang terdampak isu MSCI mulai rebound.
Sebagai contoh, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang terafiliasi Grup Bakrie dan juga dikendalikan Grup Salim, menguat 11,11 persen dalam sepekan ke Rp300 per unit.
Emiten ini sempat terperosok ke Rp198 pada 3 Februari, sebelum perlahan mendekati level pra-peringatan MSCI di Rp344 pada 27 Januari.
Penguatan juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melonjak 13,27 persen sepekan ke Rp640 per unit, setelah sebelumnya sempat turun ke kisaran Rp400 pada 3 Februari.
Dari kelompok lain, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) milik Happy Hapsoro kini berada di Rp4.950 per unit, mendekati posisi sebelum pengumuman MSCI di Rp5.400 pada 27 Januari. Saham ini sebelumnya sempat merosot tajam ke Rp3.170 pada 3 Februari.
Sementara itu, dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) diperdagangkan di Rp7.325 per unit.
Angka ini menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat jatuh ke Rp5.200 pada intraday 3 Februari, meski masih berada di bawah level pra-MSCI Rp8.575 pada 27 Januari.
Peluang dan Tantangan
Founder WH Project William Hartanto mengatakan, pasar untuk sementara terlihat melupakan sentimen MSCI.
“Pasar sementara kelihatan lupa dengan sentimen MSCI, atau bisa dikatakan sementara sudah reda. Dan setiap potensi rebound akan diambil untuk mencoba mengembalikan kerugian yang terjadi pada kejatuhan pasar di akhir Januari,” kata William, Kamis (19/2/2026).
Dalam konteks itu, ia menilai sejumlah saham masih menarik dicermati untuk strategi jangka pendek.
“Untuk saham-saham tersebut, secara keseluruhan menarik untuk jangka pendek. Pilihannya BUMI, DEWA, PTRO, RAJA, dan RATU,” imbuh dia.
Sementara itu, pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan saham-saham konglomerasi masih dibayangi tekanan terkait pengaturan ulang porsi free float.
“Saham konglo masih akan mendapat tekanan dari free float yang akan dipecah menjadi 28 segmen. Investor perlu mencermati saham mana yang paling baik dalam pengaturan floatnya,” kata Michael, Kamis (19/2).
Pandangan lain datang dari Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta Utama yang menjelaskan, rebound saham-saham konglomerasi belakangan ini tidak lepas dari faktor teknikal dan valuasi yang sudah tertekan cukup dalam.
“Karena saham konglomerat sebenarnya sudah oversold. Saat ini investor sudah priced in karena harga saham terdiskon,” kata Nafan, Kamis (19/2).
Menurut dia, pelaku pasar pada dasarnya telah mengantisipasi berbagai sentimen negatif sebelumnya, sehingga ruang pemulihan terbuka ketika tekanan mulai mereda.
Meski demikian, Nafan menekankan pentingnya aspek tata kelola dan keterbukaan informasi agar reli dapat berlanjut secara sehat.
“Terkait dengan aturan transparansi, hemat saya, harus segera dilakukan. Tapi, risikonya tetap ada kalau transparansi tidak dijalankan dengan efektif, dikhawatirkan outflow bisa akan kembali terjadi,” tutur dia.
Kilas Balik Guncangan MSCI
Pengumuman dari pengelola indeks global MSCI pada akhir bulan lalu, tepatnya pada 28-29 Januari 2026, menjadi titik balik yang menekan IHSG secara signifikan, memangkas hampir 20 persen kapitalisasi pasar hanya dalam dua hari perdagangan dan sempat menyebabkan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
BCA Sekuritas mencatat, dalam riset pada 4 Februari 2026, MSCI menyoroti isu transparansi pasar yang langsung memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi penopang utama IHSG dan digadang-gadang sebagai MSCI play.
Tekanan ini dinilai bukan sekadar koreksi teknis, melainkan sinyal risiko struktural yang lebih dalam.
Menurut BCA Sekuritas, langkah MSCI bisa menjadi ‘puncak gunung es’ yang membuka kerentanan fundamental pasar Indonesia, khususnya di sisi makro.
Meski pemerintah merespons cepat, pasar masih menunggu bukti konkret untuk memulihkan kepercayaan.
BCA Sekuritas menilai, rentang waktu yang tersedia diperkirakan hanya sekitar tiga bulan ke depan.
Menanti Daftar Konsentrasi Pemegang Saham
Sebelumnya, Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkapkan, pada 11 Februari 2026, pihaknya berencana menerbitkan daftar konsentrasi pemegang saham (shareholder concentration list) untuk memperkuat transparansi dan integritas pasar.
Rencana ini turut disampaikan dalam pertemuan BEI dengan MSCI.
Langkah tersebut melengkapi sejumlah inisiatif yang telah disiapkan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), seperti penambahan klasifikasi investor dari 9 menjadi 28 subkategori serta pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen.
Target pengumpulan data investor lebih rinci ditetapkan Maret 2026, sementara jadwal rilis daftar konsentrasi belum diumumkan.
Praktik serupa telah diterapkan di Hong Kong oleh Securities and Futures Commission (SFC). Otoritas setempat menyoroti emiten dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi karena berpotensi memicu lonjakan harga yang tajam meski saham beredar di publik terbatas.
Stockbit menilai daftar ini dapat meningkatkan transparansi struktur kepemilikan. Namun, konsentrasi saham yang tinggi bukan berarti pelanggaran, melainkan peringatan bahwa risiko volatilitas bisa lebih besar bagi investor.
Sementara, menurut riset Indo Premier Sekuritas, pada 12 Februari 2026, daftar high shareholding concentration di Hong Kong dapat menjadi acuan bagi pasar saham Indonesia.
Mengacu pada praktik yang diterapkan SFC tidak ada aturan baku atau metrik resmi dalam penetapan daftar tersebut.
Namun, saham yang umumnya masuk daftar adalah yang lebih dari 50 persen free float–nya dikuasai oleh sejumlah kecil pihak atau kelompok pemegang saham, baik yang terafiliasi maupun tidak.
Indopremier menekankan, masuknya suatu saham ke dalam daftar itu bukan berarti perdagangan akan disuspensi atau ada tuduhan praktik cornering oleh market maker maupun kelompok tertentu.
Daftar tersebut, demikian kata Indo Premier, lebih berfungsi sebagai peringatan kepada investor bahwa terdapat risiko konsentrasi kepemilikan, sehingga keputusan investasi perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. (Aldo Fernando)