MARKET NEWS

Saham Nikel MBMA-MDKA Cs Bertenaga saat Pasar Lesu

TIM RISET IDX CHANNEL 13/01/2026 15:44 WIB

Saham emiten tambang nikel menguat pada Selasa (13/1/2026), menjaga momentum positif belakangan ini di tengah lesunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Saham Nikel MBMA-MDKA Cs Bertenaga saat Pasar Lesu. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham emiten tambang nikel menguat pada Selasa (13/1/2026), menjaga momentum positif belakangan ini di tengah lesunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring penurunan tajam saham-saham konglomerat.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pukul 15.24 WIB, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin kenaikan sebesar 13,85 persen ke Rp740 per unit, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang meningkat 7,27 persen menjadi Rp3.100 per unit.

Saham PT Timah Tbk (TINS) juga mendaki 4,60 persen, PT Harum Energy Tbk (HRUM) tumbuh 3,46 persen, PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) terkerek 3,03 persen.

Selanjutnya, saham DKFT terapresiasi 1,70 persen, NCKL 1,54 persen, ANTM 1,04 persen, dan INCO 0,78 persen.

Berbeda, NICL terkoreksi 3,64 persen ke level Rp1.800 per unit.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai sejumlah saham sektor nikel masih layak dicermati di tengah dinamika harga komoditas dan sentimen global.

“ANTM, MDKA, MBMA, NCKL merupakan saham yang menarik dari sisi fundamental,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Lebih lanjut, Michael menyoroti kondisi teknikal ANTM yang dinilai mulai membaik dan berpotensi menarik minat investor. “ANTM memiliki pola double bottom dengan target menuju ke 4.200,” katanya.

Dia menambahkan, ada faktor katalis lain yang berpotensi mendorong pergerakan saham ANTM dalam waktu ke depan. “Di angka 3.980 ke atas, ANTM bisa mendapat flow dari MSCI standard caps,” imbuh dia.

Kontrak berjangka (futures) nikel naik ke kisaran USD17.900 per ton pada Senin (12/1), bangkit dari koreksi tajam pekan lalu seiring kembalinya momentum beli ke pasar.

Melansir dari Trading Economics, perbaikan permintaan dari pabrik baja nirkarat di China serta produsen baterai kendaraan listrik (EV) menopang penguatan tersebut.

Di saat yang sama, posisi spekulatif kembali bergerak menyusul berlanjutnya ketidakpastian pasokan dari Indonesia, produsen nikel terbesar dunia.

Indonesia sebelumnya memberi sinyal potensi pemangkasan produksi 34 persen pada 2026, namun kuota final hingga kini masih menunggu keputusan.

Vale juga menghentikan sementara operasi di tambang Pomalaa dan Bahodopi karena menanti persetujuan, sehingga menambah kehati-hatian pasar. Meski begitu, operasi di tambang andalan Sorowako tetap berjalan.

Pelaku pasar mencermati sinyal kebijakan lanjutan yang berpotensi memicu volatilitas harga. Di sisi lain, kombinasi stok terdaftar LME dan stok off-warrant melonjak 57,6 persen sepanjang tahun lalu menjadi 367.310 ton.

Keberadaan shadow stocks di Singapura dan Kaohsiung menyumbang volatilitas belakangan ini dan membatasi ruang kenaikan, meskipun pembeli kembali masuk setelah koreksi pekan lalu.

Sementara itu, futures tembaga bertahan tepat di bawah USD6 per pon pada Selasa, mendekati rekor tertinggi.

Harga ditopang ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan memberlakukan tarif baru atas logam olahan tahun ini, mendorong trader mengalihkan pengiriman ke AS dan memperketat pasokan di wilayah lain.

Gangguan berkelanjutan di sejumlah produsen utama Amerika Selatan, akibat bencana alam, aksi mogok tenaga kerja, dan risiko politik, turut menambah kekhawatiran pasokan.

Pada saat yang sama, permintaan industri yang solid terus menopang harga, seiring transisi ke teknologi ramah lingkungan dan pesatnya ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Kendaraan listrik membutuhkan hingga empat kali lebih banyak tembaga dibanding mobil berbahan bakar bensin, sementara pusat data AI sangat bergantung pada instalasi kabel yang intensif tembaga.

Selain itu, pasar juga bertaruh bahwa Federal Reserve (The Fed) AS dan People’s Bank of China akan memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini, yang kian memperkuat prospek permintaan.

Sementara itu, IHSG melemah 0,14 persen ke level 8.872, tertekan oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) milik Grup Bakrie, Grup Barito, hingga emiten-emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro.

Analis menilai tekanan tersebut dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan sebelumnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE